Pesawaran – Anggota DPRD Provinsi Lampung, Mustika Bahrum, menegaskan bahwa Pancasila merupakan ideologi bangsa yang secara utuh mengakomodasi seluruh bentuk keberagaman masyarakat Indonesia, baik dari sisi agama, suku, budaya, maupun latar belakang sosial. Penegasan tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang dirangkai dengan agenda silaturahmi bersama warga Desa Sukaraja, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Mustika, sosialisasi Pancasila tidak semata-mata dimaknai sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai ruang strategis untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan melalui interaksi langsung antara wakil rakyat dan masyarakat. Ia menilai, pendekatan dialogis dan silaturahmi menjadi cara paling efektif untuk menghidupkan Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Sosialisasi ini hanya kemasannya saja. Substansi utamanya adalah silaturahmi tatap muka dengan masyarakat. Dari silaturahmi itulah nilai-nilai Pancasila benar-benar bisa hidup dan dirasakan dalam keseharian,” ujar Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung tersebut di hadapan warga.
Pemilik gelar adat Suntan Pengayom Makhga itu menambahkan, silaturahmi memiliki dimensi sosial dan spiritual yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Selain mempererat persaudaraan, silaturahmi juga membuka ruang musyawarah, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan rasa saling peduli antarwarga.
“Guyub rukun, hidup bertetangga, saling menghormati, dan bermusyawarah untuk mufakat adalah praktik nyata Pancasila yang sudah mengakar di masyarakat Pesawaran. Tugas kami di legislatif adalah memastikan nilai-nilai itu terus diperkuat dan diwariskan,” tegas Anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi Lampung tersebut.
Lebih lanjut, Mustika menekankan bahwa kegiatan sosialisasi ini juga menghadirkan narasumber yang kompeten untuk memberikan pemahaman ideologis secara lebih mendalam. Ia berharap masyarakat dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh agar pemahaman terhadap Pancasila tidak berhenti pada tataran normatif, tetapi mampu diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, narasumber kegiatan, Risodar AH, menjelaskan bahwa setiap sila dalam Pancasila dirumuskan melalui proses sejarah panjang yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Menurutnya, Pancasila lahir sebagai kesepakatan nasional untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
“Pancasila dirancang untuk mengakomodasi seluruh perbedaan yang ada di bangsa ini—agama, adat istiadat, budaya, hingga latar belakang sosial. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempertahankannya,” ujar Risodar.
Ia juga mengingatkan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk pengisian kemerdekaan yang bermakna sekaligus menjadi benteng ideologis dari masuknya paham-paham yang bertentangan dengan jati diri bangsa.
Kegiatan sosialisasi tersebut turut dihadiri Pj Kepala Desa Sukaraja Surawan, aparatur desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta peserta dari berbagai kalangan, yang menunjukkan komitmen bersama dalam merawat nilai-nilai kebangsaan di tingkat akar rumput. (Red/Adv)







