Payungi Space: Ruang Nongkrong yang Menghidupkan Gagasan dan Masa Depan

Madani News – Di tengah arus modernisasi dan derasnya perkembangan era digital, tidak semua komunitas mampu bertahan, apalagi berkembang dengan jati diri yang kuat. Banyak ruang publik lahir sekadar menjadi tempat transaksi atau tongkrongan sesaat. Namun Payungi hadir dengan wajah berbeda. Ia bukan sekadar pasar mingguan, bukan pula hanya ruang berkumpul, melainkan sebuah gerakan sosial dan kebudayaan yang tumbuh dari semangat gotong royong dan kesadaran kolektif masyarakat.

Payungi sejak awal telah melampaui makna pasar tradisional. Secara tangible, ia memang dikenal sebagai Pasar Yosomulyo Pelangi. Namun secara intangible, Payungi menjelma menjadi ekosistem pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat. Hadirnya Sekolah Desa, Payungi University, Wes Payungi, Sekolah Seni Payungi, HSC Center, perpustakaan buku, Omahe Kopi, hingga Koperasi Pacadaya Payungi menunjukkan bahwa Payungi adalah gerakan hidup-bukan kegiatan temporer.

Di sinilah letak kekuatan Payungi: ia menggabungkan ekonomi kreatif dengan pendidikan, budaya dengan kewirausahaan, serta tradisi dengan inovasi. Semua dijalankan bukan dengan pendekatan elitis, melainkan melalui nilai gotong royong yang menjadi akar sosial masyarakat Indonesia.

Gagasan Payungi kemudian berkembang lebih luas melalui lahirnya Payungi Space. Ini bukan sekadar perluasan fisik, tetapi perluasan makna. Payungi Space hadir sebagai ruang kreatif modern: tempat belajar, berdiskusi, berkolaborasi, sekaligus tempat nongkrong, ngopi, dan menikmati kuliner. Sebuah ruang yang menjawab kebutuhan zaman tanpa tercerabut dari nilai-nilai dasar pendidikan dan kebudayaan.

Di era digital dan media sosial, terutama bagi generasi Z, ruang seperti Payungi Space menjadi sangat penting. Anak muda hari ini tidak cukup hanya diarahkan, tetapi perlu didorong dan diajak untuk berpikir kreatif, kritis, dan kolaboratif. Payungi Space menyediakan ruang aman untuk itu—ruang di mana ide bisa tumbuh, gagasan bisa diuji, dan kreativitas bisa dipraktikkan secara nyata.

Lebih dari itu, Payungi mengingatkan kita bahwa kemajuan kampung, daerah, dan kota tidak bisa dilepaskan dari pendidikan. Pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas formal. Ia bisa hadir di pasar, di kedai kopi, di ruang diskusi, bahkan di antara obrolan santai. Inilah pendidikan kontekstual yang dibutuhkan masyarakat hari ini-pendidikan yang membumi dan relevan.

Payungi Space menjadi contoh bahwa ekonomi kreatif bukan hanya soal omzet dan keramaian, tetapi tentang membangun manusia. Ketika masyarakat diberi ruang belajar, ruang berekspresi, dan ruang berdaya, maka ekonomi akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Payungi bukan hanya milik Kota Metro, tetapi menjadi inspirasi bagi banyak daerah. Ia menunjukkan bahwa dengan visi, konsistensi, dan gotong royong, sebuah kampung bisa melahirkan gerakan besar. Payungi Space adalah bukti bahwa masa depan bisa dibangun dari ruang-ruang kecil, selama di dalamnya ada pendidikan, kreativitas, dan kepedulian sosial.

Dan dari Payungi, kita belajar: kemajuan sejati bukan soal seberapa modern sebuah tempat, tetapi seberapa manusiawi dan berpendidikannya sebuah gerakan. (*)

Penulis : Abdul Rohman Wahid, M.H (Tim Pengajar Payungi University)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *