Madani News – Mengapa mereka belajar di Komunitas Payungi? Di sini, belajar tidak lagi tersekat oleh dinding beton kelas kaku oleh kurikulum administratif. Melalui Sekolah Komunitas, Bootcamp, dan Program Live-In, konsep Payungi University telah bermutasi menjadi laboratorium sosial di Lampung. Inilah ruang di mana teori bertemu dengan tanah, dan gagasan bertemu dengan keringat pemberdayaan.
Mengapa belajar di gerakan pemberdayaan Payungi itu asyik? Jawabannya terletak pada pengalaman immersion atau keterlibatan total. Peserta tidak hanya datang sebagai turis intelektual, tetapi mereka Live-In: tinggal di homestay warga, makan apa yang warga makan, dan mendengar langsung narasi perjuangan dari para penggerak.
Inilah esensi pendidikan yang sebenarnya. Para mahasiswa, birokrat, kepala desa, hingga akademisi dari berbagai perguruan tinggi datang ke sini untuk melihat bagaimana pengetahuan dijadikan pedoman gerakan. Mereka belajar tentang praktik seni yang membumi, literasi yang menggerakkan, hingga pemanfaatan media digital untuk kedaulatan informasi. Di Payungi, pengetahuan bukan untuk disimpan di menara gading, tapi untuk diwakafkan bagi perubahan sosial.
Ruang Belajar Alternatif dan Kaderisasi Lokal
Komunitas memiliki tanggung jawab sejarah untuk menciptakan ruang belajar alternatif. Mengapa? Karena masa depan bangsa ini bergantung pada tumbuhnya kader-kader lokal yang memiliki kesadaran kritis. Payungi Space adalah upaya konkret untuk mengintegrasikan kekuatan ekonomi kreatif—mulai dari seni kuliner hingga ruang literasi-sebagai instrumen belajar.
Dengan adanya Payungi Space, proses belajar menjadi berkelanjutan. Ruang meeting yang estetik, perpustakaan yang lengkap, hingga aula lantai dua bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan infrastruktur gagasan. Inilah tempat di mana kader-kader lokal ditempa agar tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan rasa terhadap persoalan warganya sendiri.
No One Left Behind
Namun, pencapaian paling mengharukan dari transformasi ruang ini adalah komitmennya terhadap inklusivitas. Setiap Minggu pagi, Pasar Payungi menunjukkan wajah kemanusiaan yang paling radikal. Kehadiran teman-teman disabilitas, termasuk Barista Rungu, membuktikan bahwa ruang kreatif ini adalah milik semua orang.
Ini adalah manifestasi nyata dari semangat Sustainable Development Goals (SDGs) — “No One Left Behind”. Bahwa dalam deru pembangunan ekonomi kreatif, tidak boleh ada satu pun jiwa yang tertinggal di belakang, termasuk saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus. Transformasi Payungi ingin mewujudkan mimpi bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berdaya secara ekonomi dan kreatif.
Gerakan Payungi adalah sebuah pengingat bahwa jika kita membangun ruang dengan spirit pengetahuan dan kasih sayang, maka ruang tersebut akan “berbicara”. Ia akan menarik orang-orang dari berbagai latar belakang untuk datang, belajar, dan pulang membawa api perubahan.
Sekolah Komunitas Payungi adalah bukti bahwa pusat keunggulan (center of excellence) tidak harus selalu berada di ibu kota. Ia bisa tumbuh subur di sebuah kelurahan, selama komunitasnya berani bermimpi dan tekun bekerja. Di sini, kita belajar bahwa menjadi pintar itu baik, tetapi menjadi bermanfaat itu jauh lebih mulia.
Mari datang belajar di Payungi. Di sini, setiap warga adalah guru, dan setiap perbincangan adalah kurikulum hidup. (*)
Penulis : Irfan Fauzi Rachman (Founder Payungi Space)







