Peduli Masalah Jaringan Pasca Bencana Banjir Sumatra, Mahasiswa Telkom Bandung Bantu Turun ke Lapangan

Sumatra77 Dilihat

Sumatra – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025 membawa dampak yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Selain merendam rumah, merusak jalan, dan memaksa warga mengungsi, bencana banjir juga memutus satu hal yang sangat menentukan dalam situasi darurat, yakni jaringan komunikasi.

Di banyak titik terdampak banjir, sinyal seluler hilang, listrik padam, dan internet tidak dapat digunakan sama sekali.

Ketika komunikasi terputus, persoalan di lapangan menjadi berlipat. Relawan kesulitan mengirim laporan kondisi terbaru, aparat desa tidak dapat mengkoordinasikan bantuan dengan cepat, dan warga kehilangan akses untuk menghubungi keluarga.

Informasi kebutuhan menjadi terlambat, sementara distribusi bantuan berisiko tidak tepat sasaran. Dalam kondisi seperti ini, jaringan bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan mendasar.

Situasi tersebut mendorong sejumlah mahasiswa dari Telkom University untuk turun langsung ke wilayah terdampak.

Mereka tergabung dalam mahasiswa pecinta alam ASTACALA, dan memilih fokus pada persoalan yang jarang menjadi sorotan utama, yaitu memulihkan akses jaringan di wilayah bencana.

Alih-alih membawa bantuan dalam bentuk besar dan masif, para mahasiswa ini berangkat dengan pendekatan yang lebih spesifik.

Mereka melihat bahwa tanpa komunikasi, berbagai bentuk bantuan lain akan bergerak lebih lambat. Karena itu, akses jaringan darurat diposisikan sebagai pintu masuk untuk membantu proses penanganan bencana secara lebih terkoordinasi.

Wilayah Aceh Tamiang menjadi salah satu lokasi yang didatangi. Berdasarkan asesmen awal, beberapa desa di kawasan ini mengalami gangguan jaringan cukup parah, sementara aktivitas relawan dan distribusi bantuan terus berlangsung.

Perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Jalan rusak, lumpur tebal, dan jembatan terputus membuat sejumlah titik hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau melalui jalur sungai.

Di lapangan, mahasiswa melakukan pemasangan akses internet satelit sebagai solusi sementara. Akses ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari komunikasi relawan, pelaporan kondisi lapangan, hingga kebutuhan warga untuk menghubungi keluarga.

Di beberapa titik, satu akses internet digunakan oleh puluhan perangkat secara bersamaan, menunjukkan betapa besarnya kebutuhan komunikasi di wilayah terdampak.

Upaya tersebut tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Tidak semua relawan memiliki latar belakang teknis yang sama. Dalam situasi darurat, keterbatasan keahlian diatasi dengan kesiapan belajar di lapangan dan kemauan untuk terlibat langsung.

Prinsip yang digunakan sederhana, selama ada waktu dan niat untuk membantu, kontribusi tetap bisa diberikan. Selain kerja teknis, pengalaman di lapangan juga memperlihatkan sisi kemanusiaan yang kuat.

Warga terdampak menunjukkan ketangguhan dan solidaritas yang tinggi. Banyak dari mereka tidak ingin dikasihani dan tetap berusaha mandiri di tengah keterbatasan.

Bahkan, penyintas dengan kondisi disabilitas tetap berupaya membantu sesama di sekitarnya. Hingga pertengahan Desember 2025, dukungan publik dalam bentuk donasi terus mengalir untuk mendukung keberlanjutan kegiatan di lapangan.

Dana tersebut digunakan untuk operasional relawan, perangkat komunikasi, serta kebutuhan logistik dasar. Selain itu, direncanakan pula penambahan perangkat jaringan untuk menjangkau wilayah lain yang masih mengalami keterbatasan akses komunikasi.

Keterlibatan mahasiswa Telkom Bandung ini menunjukkan bahwa kontribusi dalam situasi bencana tidak selalu harus berbentuk besar dan spektakuler. Dengan memilih peran yang tepat dan bekerja sesuai kapasitas, kehadiran di lapangan dapat memberi dampak nyata.

Di tengah bencana, menjaga jaringan tetap menyala sering kali menjadi langkah awal agar bantuan, koordinasi, dan harapan tidak ikut terputus. ***