Kemensos Siapkan Pembelajaran Berbasis AI di 178 Sekolah Rakya

Malang –  Pemerintah mulai mengembangkan sistem tata kelola dan pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Inovasi tersebut diproyeksikan mulai diterapkan di 178 Sekolah Rakyat pada Tahun Ajaran 2026/2027.

Teknologi ini merupakan hasil pengembangan Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) Badan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang melibatkan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB).

Mewakili Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Robben Rico menyampaikan bahwa pemanfaatan AI akan membantu kepala sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum, merancang proses pembelajaran, hingga membuat soal pre-test dan post-test secara lebih efektif.

Pernyataan tersebut disampaikan Robben usai menghadiri Demo Day & Graduation AITF 2026 di Auditorium Algoritma Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026).

“Secara prinsip tata kelola itu mulai dari hulu sampai hilir. Ini salah satu contoh yang akan kami kembangkan. Kami sudah sepakat akan membawa aplikasinya ke 178 Sekolah Rakyat yang beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027,” kata Robben.

Ia menjelaskan, implementasi sistem AI tidak hanya berhenti pada penyediaan aplikasi, tetapi juga akan diikuti dengan pendampingan intensif kepada guru dan tenaga kependidikan di seluruh Sekolah Rakyat.

Kementerian Sosial juga mengajak para talenta muda pengembang program AITF untuk terlibat dalam proses sosialisasi dan implementasi teknologi kepada lebih dari 5.000 guru Sekolah Rakyat di berbagai daerah.

Selain itu, sistem AI yang dikembangkan akan diintegrasikan dengan Learning Management System (LMS) Sekolah Rakyat guna mendukung terwujudnya Digital Quotient (DQ) atau kecerdasan digital dalam proses pembelajaran.

Menurut Robben, Kemensos berkomitmen memastikan teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara merata di seluruh Sekolah Rakyat dengan dukungan anggaran yang memadai serta pengawasan dari Kementerian Komunikasi dan Digital.

“Kami di Kemensos atas izin Pak Menteri Sosial akan memastikan pelaksanaan program ini bisa dibantu dan di-cover dengan anggaran yang proper. Ini kan prototype, kemudian harus diwujudkan dalam bentuk aplikasi yang sebenarnya,” ujarnya.

Kemensos menargetkan seluruh inovasi hasil pengembangan peserta AITF Komdigi–Universitas Brawijaya dapat direalisasikan secara penuh pada akhir tahun 2026.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Digital Bonifasius Wahyu Pudjianto menjelaskan bahwa Program AITF merupakan kolaborasi Komdigi dengan sejumlah perguruan tinggi untuk menghasilkan solusi berbasis kecerdasan buatan bagi berbagai sektor pelayanan publik.

Selain Universitas Brawijaya, program tersebut juga melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan fokus pengembangan yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing sektor.

“Untuk UB fokus di Sekolah Rakyat yang akan digunakan oleh Kemensos dan bantuan sosial yang nanti akan digunakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur,” kata Bonifasius.

Melalui kolaborasi lintas kementerian, perguruan tinggi, dan talenta digital nasional, pemerintah berharap pemanfaatan teknologi AI mampu memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta mempercepat transformasi digital di Sekolah Rakyat sebagai salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *