Cimahi – Siang itu udara di Kota Cimahi terasa tenang. Angin berembus pelan di lingkungan Sekolah Rakyat Menengah Atas Terintegrasi 17 Cimahi saat Al Sahwa duduk di sela waktu istirahat sekolahnya. Senyum hangat dan wajah cerianya membuat siapa pun tak menyangka bahwa gadis itu pernah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.
Awa, begitu ia akrab disapa, adalah salah satu siswi Sekolah Rakyat yang kini sedang merajut kembali masa depannya. Di balik tawanya yang ringan, tersimpan kisah perjuangan seorang anak dari keluarga penerima manfaat bantuan sosial yang sempat harus menghentikan sekolah karena keterbatasan ekonomi.
Selama satu tahun, Awa tidak mengenyam pendidikan. Demi membantu keluarga, ia pernah berjualan es keliling. Masa remaja yang seharusnya dipenuhi kegiatan belajar, justru ia jalani dengan bekerja di jalanan.
Namun keadaan itu perlahan berubah ketika ia diterima di Sekolah Rakyat. Kesempatan untuk kembali bersekolah menjadi titik balik yang menghidupkan lagi harapan dalam dirinya.
“Saya sangat senang dan bahagia bisa sekolah lagi. Di Sekolah Rakyat ini saya banyak sekali mendapatkan ilmu,” ungkap Awa dengan mata berbinar.
Di tengah perbincangan, nada suaranya perlahan berubah. Napasnya terdengar berat. Sesekali ia menunduk sebelum akhirnya mulai menceritakan tentang keluarganya. Mata gadis ceria itu mulai berkaca-kaca. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh perlahan.
Awa merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak laki-lakinya meninggal dunia pada Maret 2025 lalu. Kenangan tentang sang kakak menjadi salah satu alasan terbesar yang membuatnya ingin terus melanjutkan pendidikan.
“Dulu waktu masih ada almarhum aa, dia bilang mau nyekolahin saya. Katanya saya harus sekolah lebih tinggi daripada aa sama teteh,” tuturnya lirih.
Kini, bukan hanya Awa yang mendapatkan kesempatan bangkit. Melalui program pemberdayaan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia, keluarganya juga memperoleh bantuan usaha untuk menambah penghasilan.
“Waktu tahu orang tua Awa dikasih bantuan pemberdayaan, saya senang sekali. Sekarang ada tambahan penghasilan,” katanya.
Saat ditemui di rumahnya, Suhari, ayah Awa, mengaku anak bungsunya kini menjadi harapan besar keluarga. Dengan penuh rasa bangga, ia menceritakan semangat putrinya untuk menggapai cita-cita menjadi seorang polisi wanita.
Suhari mengaku tidak pernah membatasi mimpi anak-anaknya. Baginya, selama masih mampu, ia akan terus mendukung apa pun cita-cita buah hatinya.
Berulang kali ia tersenyum sambil menahan haru ketika membicarakan Awa. Bukan karena ingin meninggikan anaknya, tetapi karena rasa bangga melihat putrinya kembali memiliki masa depan.
Di Sekolah Rakyat, Awa bukan hanya mendapatkan ruang belajar, tetapi juga harapan baru. Dari seorang anak yang pernah berhenti sekolah dan berjualan es keliling, kini ia kembali berdiri tegak menata mimpi.
Bagi Awa, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Sekolah adalah jalan untuk membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh mematikan cita-cita. (Red)











