Madani News – Beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia hidup dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Harga kebutuhan pokok terus meningkat, biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal, sementara lapangan pekerjaan tidak selalu memberikan rasa aman. Di berbagai kota besar, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menghantui banyak keluarga kelas menengah. Tidak sedikit masyarakat yang sebelumnya merasa mapan secara ekonomi kini harus menghadapi kenyataan bahwa pekerjaan dapat hilang sewaktu-waktu. Pada saat yang sama, daya beli masyarakat juga mengalami tekanan karena pertumbuhan pendapatan tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Situasi ini memaksa banyak keluarga mengatur ulang prioritas ekonominya agar tetap mampu bertahan di tengah kondisi yang serba tidak menentu.
Ironisnya, di tengah tekanan ekonomi tersebut, masyarakat justru hidup dalam arus budaya konsumsi digital yang semakin kuat. Media sosial hari ini tidak lagi sekadar menjadi ruang komunikasi, tetapi telah berubah menjadi arena pembentukan gaya hidup dan standar sosial baru. Setiap hari masyarakat disuguhi tayangan tentang liburan, tren fesyen, makanan mahal, hingga kehidupan yang tampak serba ideal. Ruang digital perlahan membentuk persepsi bahwa kebahagiaan dan keberhasilan harus ditampilkan melalui konsumsi. Akibatnya, banyak orang merasa perlu mengikuti gaya hidup tertentu agar tidak dianggap tertinggal dari lingkungan sosialnya. Dalam kondisi seperti ini, tekanan sosial tidak hanya datang dari kebutuhan hidup yang nyata, tetapi juga dari dorongan mempertahankan citra di ruang digital.
Perkembangan teknologi finansial kemudian memperkuat fenomena tersebut. Kehadiran layanan paylater, cicilan instan, dan pinjaman online membuat masyarakat semakin mudah memenuhi keinginan tanpa harus memiliki kemampuan ekonomi yang memadai. Banyak orang akhirnya terbiasa membeli sesuatu hanya karena tersedia kemudahan pembayaran. Bahkan, sebagian masyarakat mulai menganggap kemampuan mencicil sebagai tanda kemampuan membeli. Padahal, kondisi tersebut justru memperlihatkan meningkatnya ketergantungan terhadap utang konsumtif. Di tengah situasi ekonomi yang belum stabil, kebiasaan semacam ini membuat ketahanan ekonomi keluarga semakin rapuh. Sedikit saja terjadi guncangan ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan atau kenaikan harga kebutuhan pokok, kondisi finansial rumah tangga dapat langsung terganggu.
Fenomena tersebut sesungguhnya menunjukkan persoalan intertemporal choice atau pilihan antarwaktu dalam kehidupan masyarakat modern. Banyak keputusan ekonomi hari ini lebih berorientasi pada kepuasan jangka pendek dibanding keberlangsungan hidup jangka panjang. Keinginan menikmati hidup saat ini sering kali lebih dominan dibanding kesadaran membangun perlindungan ekonomi masa depan. Akibatnya, budaya menabung, mempersiapkan dana darurat, dan membangun investasi perlahan mulai melemah. Padahal, dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, kemampuan berpikir jangka panjang menjadi sangat penting agar masyarakat memiliki daya tahan menghadapi krisis.
Persoalan ekonomi masyarakat hari ini sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh rendahnya pendapatan atau kondisi ekonomi nasional semata. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni perubahan cara masyarakat memandang uang, kebutuhan, dan masa depan. Budaya digital mendorong manusia hidup dalam ritme yang serba cepat dan instan. Keinginan harus segera dipenuhi, tren harus segera diikuti, dan kepuasan harus segera dirasakan. Dalam situasi seperti ini, masyarakat semakin sulit membedakan antara kebutuhan dan gengsi sosial. Konsumsi akhirnya tidak lagi dilakukan karena kebutuhan riil, melainkan demi memperoleh pengakuan sosial dan rasa diterima di lingkungan digital.
Masalah menjadi semakin serius ketika rendahnya literasi keuangan tidak mampu mengimbangi derasnya arus konsumsi digital. Banyak masyarakat memahami cara menggunakan aplikasi transaksi modern, tetapi belum memahami cara mengelola keuangan secara sehat. Tidak sedikit yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk konsumsi jangka pendek tanpa mempersiapkan perlindungan ekonomi ketika krisis datang. Ketika kondisi ekonomi memburuk atau pekerjaan hilang secara tiba-tiba, banyak keluarga baru menyadari bahwa mereka tidak memiliki cadangan finansial yang cukup untuk bertahan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi masyarakat Indonesia masih sangat rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut menunjukkan melemahnya nilai moderasi (wasathiyah) dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Islam tidak melarang manusia menikmati kehidupan, tetapi mengingatkan agar konsumsi tidak dilakukan secara berlebihan (israf) dan boros (tabdzir). Nilai-nilai tersebut sejatinya sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini. Ketika masyarakat semakin terdorong mengejar pengakuan sosial melalui konsumsi, Islam justru mengajarkan pentingnya pengendalian diri dan tanggung jawab terhadap masa depan. Sayangnya, budaya digital hari ini lebih banyak membentuk masyarakat yang mudah tergoda simbol-simbol gaya hidup dibanding kesadaran membangun keberlanjutan hidup.
Rapuhnya ketahanan ekonomi masyarakat pada akhirnya bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan sosial dan moral. Tekanan finansial dapat memicu konflik rumah tangga, kecemasan psikologis, hingga menurunnya kualitas hubungan sosial di tengah masyarakat. Ketika banyak keluarga hidup tanpa perlindungan ekonomi yang memadai, sedikit saja krisis datang, dampaknya dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan. Karena itu, persoalan pilihan antarwaktu seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai teori ekonomi, melainkan realitas sosial yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia hari ini.
Menghadapi situasi tersebut, masyarakat perlu mulai membangun cara pandang baru tentang makna kesejahteraan dan keberhasilan hidup. Selama ini, kesejahteraan sering diukur berdasarkan apa yang terlihat di ruang digital: kendaraan, tempat nongkrong, barang bermerek, atau gaya hidup yang dipertontonkan di media sosial. Padahal, kesejahteraan sejati justru terlihat dari kemampuan seseorang bertahan menghadapi krisis, memiliki ketenangan hidup, dan tidak terjebak dalam tekanan utang konsumtif. Karena itu, masyarakat perlu kembali memahami bahwa keamanan finansial jauh lebih penting dibanding pengakuan sosial sesaat.
Penguatan literasi keuangan menjadi langkah penting untuk membangun ketahanan ekonomi masyarakat. Literasi keuangan tidak cukup dipahami sekadar kemampuan menghitung pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga kesadaran dalam menentukan prioritas hidup. Masyarakat perlu dibiasakan membedakan kebutuhan dan keinginan, membangun budaya menabung, serta memahami pentingnya dana darurat dan investasi jangka panjang. Pendidikan keuangan juga perlu menyentuh aspek moral dan psikologis, terutama mengenai kemampuan mengendalikan dorongan konsumsi di tengah tekanan budaya digital.
Dalam konteks ini, nilai-nilai Islam memiliki relevansi yang sangat kuat. Islam mengajarkan keseimbangan, kesederhanaan, dan tanggung jawab dalam menggunakan harta. Harta tidak hanya dipandang sebagai alat memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga amanah yang harus dijaga demi keberlangsungan hidup di masa depan. Karena itu, kemampuan menahan diri dari konsumsi yang tidak perlu sejatinya bukan bentuk keterbatasan, melainkan wujud kedewasaan ekonomi dan spiritual. Nilai hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, dan mempersiapkan masa depan perlu dihadirkan kembali di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin konsumtif.
Pada akhirnya, ketahanan ekonomi masyarakat tidak hanya dibangun melalui kebijakan negara atau pertumbuhan ekonomi nasional semata. Ketahanan ekonomi juga lahir dari cara masyarakat menentukan pilihan hidupnya setiap hari. Di tengah situasi ekonomi yang semakin tidak pasti, kemampuan berpikir antarwaktu menjadi sangat penting agar masyarakat tidak mudah rapuh ketika menghadapi krisis. Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang paling tinggi tingkat konsumsinya, melainkan masyarakat yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan keberlangsungan hidup di masa depan. (Red)
Penulis: Ananto Triwibowo (Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Syariah Program Pascasarjana UIN Jurai Siwo Lampung)








