Jakarta – Kementerian Sosial Republik Indonesia menggelar kegiatan Santiaji dalam rangka peringatan 22 tahun Taruna Siaga Bencana (TAGANA) bertema “22 Tahun Mengabdi: Satu Sinergi untuk Ketangguhan Negeri” di Gedung Aneka Bhakti, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan ini dirangkaikan dengan apel peringatan HUT TAGANA ke-22 serta Silaturahmi Akbar (Halalbihalal) keluarga besar Tagana. Hadir dalam acara tersebut Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, jajaran Kemensos, kepala dinas sosial dari seluruh Indonesia, serta perwakilan Tagana dari 38 provinsi.
Sebagai bentuk apresiasi negara, Mensos Gus Ipul menyerahkan piagam penghargaan kepada perwakilan Tagana dari seluruh provinsi. Penghargaan ini menjadi simbol pengakuan atas dedikasi dan kontribusi nyata Tagana dalam penanggulangan bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Semangat kebersamaan turut digaungkan melalui yel-yel yang dipimpin langsung oleh Gus Ipul.
“Satu komando! Satu aturan! Satu kesatuan!” serunya, yang kemudian disambut oleh Agus Jabo dengan penegasan, “One command, one action!”
Sebanyak 1.102 peserta hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari unsur Tagana, Kampung Siaga Bencana (KSB), Pordam, Karang Taruna, Banser, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), serta seluruh kepala dinas sosial provinsi dan forum koordinasi Tagana se-Indonesia.
Dalam arahannya, Gus Ipul mengungkapkan bahwa perjalanan Tagana tidak lepas dari sejarah panjang yang penuh keterbatasan. Ia bahkan menyinggung bagaimana pada awal pembentukannya, Tagana sempat dipandang sebelah mata.
“Tagana lahir dari keterbatasan, bahkan pernah diidentikkan dengan ‘mobil rongsok’. Tapi dari situlah semangat pengabdian dibangun,” ujarnya.
Berawal dari sekitar 60 orang anggota pertama, Tagana kini telah berkembang menjadi kekuatan sosial yang tangguh. Sejak dideklarasikan pada 25 Maret 2004 di Lembang, Jawa Barat, Tagana terus menunjukkan eksistensinya sebagai garda terdepan dalam aksi kemanusiaan.
Menurut Gus Ipul, Tagana memiliki peran strategis sebagai bagian dari pilar sosial Kemensos, terutama dalam penanggulangan bencana dari tahap evakuasi hingga pemulihan.
“Tagana selalu hadir di tengah bencana, mulai dari evakuasi, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi para relawan yang tanpa lelah terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan.
“Kami berterima kasih kepada seluruh kader Tagana yang telah menyiapkan logistik, mendirikan dapur umum, hingga memberikan dukungan psikososial bagi korban bencana,” lanjutnya.
Saat ini, jumlah anggota Tagana mencapai sekitar 35 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia hingga tingkat kabupaten/kota. Ke depan, pemerintah mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan.
Selain itu, Tagana juga diharapkan semakin aktif dalam memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah, khususnya di daerah rawan bencana.
“Tagana tidak hanya hadir saat bencana, tetapi juga harus mampu membangun kesadaran masyarakat tentang mitigasi,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Forum Koordinasi Tagana Jakarta Pusat, Benni Suryadilaga, menyampaikan rasa bangga atas perjalanan panjang Tagana yang telah mengabdi selama lebih dari dua dekade.
“Solidaritas di lapangan menjadi kunci utama kami dalam menjalankan tugas kemanusiaan yang tidak ringan,” ujarnya.
Momentum 22 tahun Tagana ini menjadi pengingat bahwa kekuatan utama dalam penanggulangan bencana tidak hanya terletak pada sistem, tetapi juga pada semangat pengabdian, solidaritas, dan sinergi untuk membangun ketangguhan negeri. (Red/Adv)













