Gus Ipul Dorong Pemutakhiran DTSEN, Libatkan Kepala Desa agar Bansos Tepat Sasaran

Pasuruan – Pemerintah terus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan melalui penyempurnaan data tunggal nasional dan perluasan digitalisasi bantuan sosial (bansos). Langkah ini dinilai krusial agar intervensi pemerintah benar-benar tepat sasaran, sekaligus menekan kesalahan penyaluran bantuan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan, akurasi data menjadi fondasi utama keberhasilan program perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen pemerintah hingga tingkat desa untuk aktif memutakhirkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Kalau data kita akurat, maka program kita pasti tepat sasaran. Inilah yang kita dorong hari ini, dan harapannya bisa ditindaklanjuti di desa masing-masing sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo,” kata Gus Ipul dalam Sosialisasi DTSEN bersama camat, kepala desa, dan pilar-pilar sosial di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (7/2/2026).

Gus Ipul tidak menampik masih ditemukannya bantuan pemerintah yang kurang tepat sasaran akibat penggunaan data lama. Menurutnya, pemutakhiran DTSEN harus dilakukan secara berkelanjutan agar selalu mencerminkan kondisi riil di lapangan.

“Intinya bagaimana kita bisa melakukan pemutakhiran data setiap hari, sehingga data benar-benar sesuai dengan kenyataan di lapangan,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, hadir anggota Komisi VIII DPR RI Saiful Nuri, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo, Wakil Bupati Pasuruan Shobih Asrori, serta jajaran pejabat tinggi Kementerian Sosial dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Gus Ipul menjelaskan, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis hasil pemutakhiran DTSEN secara berkala setiap tiga bulan. Namun, pembaruan data dapat dilakukan setiap hari melalui jalur formal mulai dari RT/RW hingga pemerintah daerah, serta melalui partisipasi aktif masyarakat.

Untuk mendukung keterbukaan data, Kemensos menyediakan berbagai kanal usul-sanggah, seperti call center 171 yang beroperasi 24 jam, layanan WhatsApp 08877-171-171, serta fitur pada Aplikasi Cek Bansos.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo, kita harus terbuka terhadap partisipasi masyarakat. Data tidak boleh ditutup-tutupi, justru masyarakat diajak ikut memperbaiki,” tegas Gus Ipul.

Selain pemutakhiran data, Kemensos juga memperluas program Digitalisasi Bansos berbasis DTSEN. Saat ini, uji coba dilakukan di 40 kabupaten/kota dan satu provinsi, setelah sebelumnya dipilotkan di Banyuwangi, dengan melibatkan lintas kementerian, mulai dari Kemensos, Komdigi, KemenPAN-RB, BPS, hingga Dewan Ekonomi Nasional.

“Kalau ini sukses, kita akan luncurkan secara nasional,” ujarnya.

Evaluasi di Banyuwangi menunjukkan penggunaan data lama menyebabkan tingkat ketidaktepatan sasaran bansos mencapai 77 persen. Setelah menggunakan DTSEN, angka tersebut turun signifikan menjadi 28 persen.

“Target kita ke depan, error penyaluran bisa ditekan hingga di bawah 10 persen, bahkan 5 persen,” kata Gus Ipul.

Sementara itu, Wakil Bupati Pasuruan Shobih Asrori menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah dalam mendukung pemutakhiran DTSEN.

“DTSEN bukan sekadar kumpulan angka, melainkan instrumen kunci untuk mewujudkan keadilan sosial, efisiensi anggaran, dan perencanaan pembangunan yang terukur,” ujarnya.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah menginstruksikan seluruh perangkat daerah hingga pemerintah desa untuk aktif melakukan pemutakhiran data secara berkala.

Sebagai informasi, DTSEN merupakan basis data nasional yang memotret kondisi sosial ekonomi setiap individu dan keluarga di Indonesia. Data ini merupakan hasil penggabungan Regsosek, DTKS, dan P3KE, serta terintegrasi dengan data kependudukan.

Hingga Januari 2026, DTSEN mencakup 289.060.513 data individu yang dikelompokkan dalam 10 desil kesejahteraan, mulai dari prasejahtera hingga sejahtera. Klasifikasi ini memungkinkan pemerintah menetapkan prioritas bantuan secara lebih presisi, sekaligus mendorong kemandirian masyarakat yang telah berdaya.

Rangkaian Sosialisasi DTSEN juga dimeriahkan penampilan siswa Sekolah Rakyat di wilayah Kabupaten dan Kota Pasuruan, mulai dari pidato Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, baris variasi polisi cilik, hingga penampilan hadroh, Tari Saman, paduan suara, dan pembacaan puisi. (Red/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *