Madani News – Di era di mana ruang-ruang kota semakin megah secara arsitektural namun kian gersang secara kemanusiaan, kita sering merasa asing di tengah keramaian. Kota-kota modern seringkali menjadi “hutan beton” yang acuh, tempat di mana interaksi manusia hanya sebatas transaksi ekonomi yang dingin. Payungi Space hadir, bukan sebagai pesaing kemegahan mal atau gedung pencakar langit, melainkan sebagai sebuah ruang tumbuh yang mencoba mengembalikan “rasa” ke dalam denyut nadi kota.
Selama ini, istilah “nongkrong” sering disalahpahami sebagai aktivitas membuang waktu. Payungi Space mendefinisikan ulang aktivitas ini dengan kacamata growth mindset. Di sini, nongkrong adalah aktivitas intelektual yang cair. Seseorang bisa duduk dengan secangkir kopi di tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang buku dari rak perpustakaan komunitas.
Nongkrong di Payungi Space adalah upaya untuk saling mempertukarkan energi pertumbuhan. Ketika ruang baca, ruang diskusi, dan ruang pemutaran film diletakkan dalam satu ekosistem, maka percakapan yang lahir bukan lagi sekadar basa-basi, melainkan diskusi tentang ide, inovasi, dan solusi. Inilah cara kita melawan kelesuan berpikir di tengah arus informasi yang dangkal.
Kota-kota kita hari ini semakin tidak manusiawi karena hilangnya “ruang ketiga”—tempat di mana warga bisa bertemu tanpa sekat status sosial. Payungi Space menjawab tantangan ini dengan keberanian untuk menjadi kecil namun bermakna. Ia tidak perlu mewah, karena kemewahan sejati sebuah ruang terletak pada kemampuannya memberikan rasa aman dan nyaman untuk berekspresi.
Dengan mengedepankan literasi dan pengetahuan kolektif, Payungi Space menciptakan “tali asih” antar warga. Ini adalah bentuk kepedulian yang nyata yaitu menyediakan tempat bagi pikiran-pikiran yang gelisah untuk menemukan jawabannya melalui buku dan dialog. Ruang kecil ini menjadi magnet bagi orang-orang dari luar daerah bukan karena kemegahannya, melainkan karena kehangatan intelektual yang ditawarkannya.
Pemberdayaan dalam Arus Pop Culture
Berbeda dengan “Pasar Payungi” yang dikenal sebagai destinasi kuliner mingguan, Payungi Space adalah energi yang bekerja setiap hari. Ia menyusup ke dalam arus pop culture—gaya hidup nongkrong anak muda—dan menyuntikkan nilai-nilai pemberdayaan di dalamnya. Payungi Space sadar bahwa ia tidak perlu berdiri di atas podium untuk menggurui. Ia cukup hadir sebagai kawan yang menyediakan ruang kreatif. Di sini, tidak ada guru dan murid yang kaku; yang ada hanyalah sesama pembelajar yang saling berbagi pengalaman. Kesadaran bahwa “kita semua butuh ruang kreatif” inilah yang mempertemukan kita dengan banyak kebaikan.
Transformasi Payungi Space adalah bukti bahwa ruang bisa mendidik. Ia mengajarkan kita bahwa untuk tumbuh, kita tidak perlu sendirian. Kita butuh ekosistem. Di tengah kota yang semakin acuh, Payungi Space adalah oase yang mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk sosial yang merindukan koneksi bermakna.
Ia adalah ruang untuk gagal, ruang untuk mencoba, dan yang paling penting: ruang untuk tumbuh. Melalui Payungi Space, kami percaya bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisiknya, tapi dari seberapa hidup ruang-ruang diskusinya.
Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah kota menjadi manusiawi bukanlah betonnya, melainkan bagaimana warganya saling memanusiakan satu sama lain melalui pengetahuan.
Penulis : Irfan Fauzi Rachman (Founder Payungi Space)













