Surakarta – Pagi baru saja menyapa Kota Surakarta ketika Mak Painah (73) melangkahkan kaki menuju area pemakaman di Kelurahan Pucangsawit. Di usianya yang tak lagi muda, perempuan renta itu masih setia memungut bunga kamboja yang berguguran dan membersihkan makam-makam yang didatangi peziarah.
Pekerjaan itu telah ia jalani bertahun-tahun. Penghasilannya tidak menentu. Kadang cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana, kadang bahkan tak sampai Rp10 ribu dalam sehari. Namun dari pekerjaan yang tampak sederhana itulah, Mak Painah mampu bertahan hidup sekaligus membesarkan seorang anak yang kini menjadi harapan masa depannya.
Anak itu bernama Aditya Herlambang.
Bukan anak kandung, tetapi kasih sayang yang diberikan Mak Painah tak pernah berbeda sedikit pun. Sejak masih bayi, Aditya dititipkan kepadanya. Awalnya hanya sementara. Namun waktu terus berjalan dan orang tua kandung Aditya tak pernah kembali.
Sejak saat itu, Mak Painah mengambil peran sebagai ibu sekaligus ayah bagi Aditya.
“Sudah saya anggap anak sendiri,” ucap Mak Painah dengan mata yang berbinar.
Di tengah keterbatasan ekonomi, ia berusaha memenuhi kebutuhan Aditya sebisanya. Dari hasil berjualan bunga makam dan membersihkan area pemakaman, ia membiayai sekolah, makan, hingga kebutuhan sehari-hari anak asuh yang sangat dicintainya itu.
Perjalanan hidup mereka tidak pernah mudah. Setelah Aditya lulus SMP, kecemasan besar mulai menghampiri Mak Painah. Ia tak lagi memiliki kemampuan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan Aditya ke jenjang yang lebih tinggi.
Malam-malam panjang sering ia lalui dengan kegelisahan.
“Waktu itu saya benar-benar takut dia tidak bisa sekolah lagi karena saya tidak punya biaya,” kenangnya.
Di tengah kebingungan itu, sebuah kabar baik datang. Aditya diterima sebagai siswa di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta, program pendidikan gratis berasrama yang digagas pemerintah untuk anak-anak dari keluarga miskin dan rentan.
Kabar tersebut menjadi titik terang dalam kehidupan Mak Painah.
“Alhamdulillah saya senang sekali. Sampai menangis karena dia bisa sekolah tanpa biaya, gratis,” tuturnya dengan suara bergetar.
Bagi sebagian orang, diterimanya seorang anak di sekolah mungkin hal biasa. Namun bagi Mak Painah, itu adalah jawaban atas doa-doa yang selama ini ia panjatkan di sela-sela pekerjaannya membersihkan makam.
Kini Aditya tidak hanya mendapatkan pendidikan yang layak, tetapi juga fasilitas asrama, makan, perlengkapan sekolah, serta pembinaan karakter yang membuka peluang lebih besar untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Di balik keriput wajahnya, tersimpan harapan yang begitu sederhana.
“Saya ingin melihat Aditya tumbuh besar, sekolahnya selesai, dan hidupnya lebih baik dari saya,” ujarnya sambil menahan air mata.
Perjuangan Mak Painah juga mendapat dukungan melalui berbagai program pemerintah. Selain memperoleh bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), pada tahun 2025 ia juga menerima bantuan sembako dan Program Yatim Piatu (YAPI) yang membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun lebih dari sekadar bantuan sosial, yang membuatnya bertahan hingga hari ini adalah harapan.
Harapan bahwa anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta tidak akan mengulangi jalan hidup yang sama.
Kisah Mak Painah bukan sekadar cerita tentang kemiskinan atau seorang lansia yang bekerja di antara nisan dan bunga kamboja. Ini adalah kisah tentang cinta yang tidak mengenal ikatan darah, tentang keteguhan seorang perempuan yang menolak menyerah pada keadaan, dan tentang harapan yang tetap hidup meski tumbuh dari tempat yang sering dianggap sebagai akhir kehidupan.
Di antara makam-makam yang setiap hari ia bersihkan, Mak Painah justru sedang menanam masa depan. Dan melalui Sekolah Rakyat, harapan itu kini mulai menemukan jalannya. (Red)







