Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) meminta seluruh jajaran pengelola Sekolah Rakyat mempersiapkan diri menghadapi fase baru penyelenggaraan Sekolah Rakyat permanen yang akan mulai beroperasi secara bertahap pada tahun ini. Menurutnya, keberadaan sekolah permanen dengan kapasitas besar menuntut perubahan pola pikir, tata kelola, dan kualitas kepemimpinan yang lebih profesional.
Pesan tersebut disampaikan Gus Ipul saat memimpin rapat koordinasi bersama kepala sekolah, guru, wali asuh, dan wali asrama Sekolah Rakyat dari seluruh Indonesia di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026).
“Sekolah Rakyat permanen bukan versi yang lebih besar dari Sekolah Rakyat sementara. Ini adalah institusi pendidikan yang berbeda dan tuntutannya juga berbeda. Kepala sekolah harus bertransformasi dari pengelola program menjadi pemimpin institusi pendidikan unggulan,” tegas Gus Ipul.
Menurutnya, pembangunan Sekolah Rakyat permanen yang berdiri di atas lahan seluas 7 hingga 10 hektare dengan kapasitas lebih dari 1.000 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mengelolanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh unsur sekolah memiliki peran yang sama penting dalam membentuk karakter siswa, mulai dari kepala sekolah, guru, wali asuh, wali asrama, hingga petugas kebersihan.
“Mulai sekarang, bukan nanti. Kesiapan harus dibangun jauh sebelum Sekolah Rakyat permanen diresmikan,” ujarnya.
Standarisasi Layanan Nasional
Dalam arahannya, Gus Ipul memberikan perhatian khusus pada penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku seragam di seluruh Sekolah Rakyat.
Menurutnya, tidak boleh ada kesenjangan kualitas layanan antar sekolah, baik dalam aspek pembelajaran, kesehatan, pengasuhan, ibadah, maupun kehidupan siswa di asrama.
“Semua harus terprotokol dan terdokumentasi dengan baik. Tidak boleh ada Sekolah Rakyat yang kualitas layanannya jauh berbeda dengan yang lain,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan asrama secara profesional karena sistem boarding school menjadikan sekolah sebagai ruang pendidikan dan pembinaan karakter selama 24 jam penuh.
Untuk memperkuat pengawasan dan menjamin keamanan siswa, Kementerian Sosial akan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi, termasuk pemasangan CCTV di berbagai titik strategis sekolah.
“Anggap seperti mengelola hotel bintang lima. Bagaimana kebersihan toilet, tata kelola fasilitas, kualitas pelayanan, hingga kesiapan SDM-nya. Semua harus dipersiapkan dari sekarang,” ujar Gus Ipul.
Satu Tahun Sekolah Rakyat Harus Menjadi Pembuktian
Selain membahas kesiapan operasional sekolah permanen, rapat juga menyoroti peringatan satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang akan bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Juli 2026.
Menurut Gus Ipul, momentum tersebut harus menjadi ajang pembuktian keberhasilan program, bukan sekadar seremoni.
“Satu tahun Sekolah Rakyat bukan perayaan biasa. Ini adalah pembuktian bahwa program ini nyata, berdampak, dan mampu menjawab akar persoalan kemiskinan melalui pendidikan,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta seluruh Sekolah Rakyat menggelar kegiatan open house dengan melibatkan masyarakat, tokoh daerah, tokoh nasional, media massa, hingga para influencer agar publik dapat melihat secara langsung perkembangan dan capaian program.
“Narasi tentang Sekolah Rakyat harus tumbuh dari banyak suara, bukan hanya dari Kementerian Sosial,” katanya.
Antusiasme Daerah Terus Meningkat
Dalam sesi dialog, sejumlah kepala sekolah melaporkan perkembangan pembangunan Sekolah Rakyat permanen di daerah masing-masing.
Kepala SRMA 44 Minahasa, Jefta Johannes Makikui, melaporkan kunjungan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi ke sekolahnya pada hari yang sama. Dalam kunjungan tersebut, Mensesneg meninjau proses pembelajaran berbasis teknologi digital yang sedang berlangsung.
“Beliau merasa senang melihat kondisi sekolah dan menyaksikan langsung proses belajar mengajar yang berlangsung. Ini menjadi kebanggaan bagi seluruh Sekolah Rakyat,” ujar Jefta.
Sementara itu, laporan dari berbagai daerah seperti Takalar, Tual, Bireuen, hingga Natuna menunjukkan progres pembangunan yang terus berjalan dan tingginya antusiasme masyarakat terhadap kehadiran Sekolah Rakyat.
Menutup arahannya, Gus Ipul mengajak seluruh kepala sekolah untuk mulai membangun perspektif baru dalam memimpin lembaga pendidikan berasrama yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
“Naikkan level kepemimpinan dan cara berpikir kita. Bangun budaya disiplin, kebersihan, ketertiban, dan pelayanan terbaik bagi anak-anak kita. Masa depan mereka sedang kita siapkan hari ini,” pesannya.
Saat ini, pemerintah tengah menyelesaikan pembangunan 93 titik Sekolah Rakyat permanen tahap II yang ditargetkan rampung pada Juni 2026 dan mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada Tahun Ajaran 2026/2027 yang dimulai Juli mendatang. (Red)







