Jakarta – Pemerintah bersama platform Penjaga Harapan berkolaborasi menghadirkan Film Sekolah Rakyat sebagai media untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan afirmatif bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Film berdurasi sekitar 25 menit tersebut akan diproduksi dengan pendekatan dramatik yang mengangkat transformasi kehidupan dari keterbatasan menuju harapan, tanpa mengeksploitasi penderitaan para tokohnya.
Rencana produksi film tersebut dibahas dalam audiensi antara perwakilan Kementerian Sekretariat Negara, tim kreatif Penjaga Harapan, dan Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Koordinator Konten Penjaga Harapan, Doni Adhitia, menjelaskan bahwa proyek ini bukan sekadar produksi film, melainkan sebuah kerja kolaboratif untuk membawa nilai-nilai Sekolah Rakyat ke ruang publik.
“Kami berharap film ini menjadi kerja bersama untuk membawa nilai ideologis Sekolah Rakyat kepada masyarakat. Ini bukan sekadar cerita, tetapi upaya menghadirkan empati dan pemahaman bahwa program ini benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Audiensi tersebut turut dihadiri Direktur Utama Penjaga Harapan Wildanshah, Direktur Perkumpulan Warga Muda I Putu Arya, Art Director Maulana Wedy Irkham, Sutradara Bethap Virga Kiswanata, serta Produser Kiky Malik.
Menanggapi rencana tersebut, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyatakan dukungan penuh terhadap produksi film dan menekankan pentingnya menghasilkan karya yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Kalau ini kita mulai, harus berhasil. Ini bukan sekadar produksi, tetapi bagaimana masyarakat bisa melihat bahwa negara hadir dan memberi harapan,” tegas Agus Jabo.
Kementerian Sosial juga membuka dukungan yang diperlukan selama proses produksi, mulai dari akses lokasi, data, hingga koordinasi dengan unit-unit terkait.
Dalam kesempatan itu, Agus Jabo menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan instrumen negara untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera sebagai upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
“Sekolah Rakyat ini bukan tujuan, tetapi alat yang disediakan negara agar anak-anak dari keluarga miskin dapat mewujudkan cita-citanya dan keluarganya bisa tergraduasi dari kemiskinan,” ujarnya.
Menurutnya, mayoritas siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Melalui konsep sekolah berasrama atau boarding school, Sekolah Rakyat memberikan akses pendidikan berkualitas tanpa terhalang faktor ekonomi, zonasi, maupun keterbatasan geografis.
Film yang diinisiasi melalui platform Penjaga Harapan ini akan mengangkat kisah perjuangan seorang anak dari keluarga miskin yang sebelumnya harus bekerja demi membantu ekonomi keluarga, hingga akhirnya memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat.
Direktur Utama Penjaga Harapan, Wildanshah, mengatakan bahwa film ini diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara kebijakan pemerintah dan masyarakat.
“Kami melihat film ini sebagai bagian dari upaya menyampaikan program pemerintah secara lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat. Substansi program tetap milik negara, sementara pendekatan kreatif menjadi pelengkap untuk memperluas jangkauan pesan,” katanya.
Selain versi utama berdurasi 25 menit, tim produksi juga akan menyiapkan trailer berdurasi 30 detik yang akan didistribusikan melalui berbagai kanal publik, termasuk videotron dan media digital.
Film ini mengusung pesan utama “Dari Gelap Menuju Terang” dengan menampilkan empat nilai utama, yaitu hadirnya harapan baru bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, akses pendidikan tanpa hambatan ekonomi dan zonasi, pembentukan karakter dan keterampilan, serta peran negara dalam memuliakan masyarakat miskin.
Produksi film direncanakan berlangsung selama tiga hari dengan pendekatan berbasis riset dan konsultasi bersama Kementerian Sosial serta komunitas perfilman. Diharapkan, karya ini dapat memperkuat pemahaman publik bahwa investasi pada pendidikan merupakan salah satu kunci utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mengentaskan kemiskinan.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah dan komunitas kreatif berupaya menghadirkan narasi inspiratif yang menunjukkan bahwa setiap anak Indonesia berhak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik. (Red)







