Bandar Lampung – Aksi mogok berjualan yang dilakukan pedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Bandar Lampung mendapat perhatian serius dari Komisi II DPRD Provinsi Lampung. Pemerintah daerah diminta segera menelusuri penyebab kenaikan harga sapi hidup yang memicu terhentinya aktivitas perdagangan dan menyebabkan kelangkaan daging sapi di pasaran.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas, menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi mengganggu ketersediaan salah satu kebutuhan pangan masyarakat.
“Kami sangat menyayangkan tidak adanya daging sapi di pasaran. Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa langsung menyalahkan pedagang. Jika memang harga sapi naik, harus dicari tahu apa penyebabnya,” ujar Mikdar, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, pemerintah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait perlu melakukan penelusuran secara menyeluruh terhadap berbagai faktor yang menyebabkan harga sapi hidup terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.
Ia menegaskan masyarakat berhak mengetahui penyebab lonjakan harga tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi maupun keresahan di tengah terganggunya pasokan daging sapi.
“Kita ingin mengetahui penyebab sebenarnya. Jangan sampai ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Komisi II DPRD Provinsi Lampung berencana berkoordinasi dengan dinas terkait serta mengundang perusahaan peternakan sapi yang beroperasi di Lampung untuk mencari akar persoalan sekaligus merumuskan langkah-langkah penyelesaian yang tepat.
“Kami akan mempelajari persoalan ini dan meminta dinas terkait segera menindaklanjutinya. Jangan sampai stok daging sapi di pasar kosong dalam waktu lama,” tegas Mikdar.
Sementara itu, aksi mogok pedagang daging sapi masih berlangsung hingga hari kedua. Pantauan di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Tamin, Pasar Tugu, dan Pasar Kangkung menunjukkan sebagian besar lapak pedagang daging sapi masih tutup dan tidak melayani pembeli.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan daging sapi sejak aksi mogok dimulai pada Senin (22/6/2026).
Ketua Persatuan Pedagang Daging (PPD) Bandar Lampung, Tampan Sujarwadi, sebelumnya menjelaskan bahwa harga sapi hidup yang berasal dari feedlot maupun peternak terus mengalami kenaikan.
Menurutnya, sejak Desember 2025 hingga Juni 2026, harga sapi hidup meningkat sekitar Rp10 ribu per kilogram atau setara Rp5 juta hingga Rp6 juta per ekor.
Di sisi lain, para pedagang mengaku tidak dapat serta-merta menaikkan harga jual daging karena khawatir daya beli masyarakat akan menurun dan produk tidak terserap pasar.
Kondisi tersebut membuat ratusan pedagang daging sapi di Bandar Lampung memilih menghentikan sementara aktivitas berjualan sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga sapi hidup yang dinilai semakin memberatkan usaha mereka.
DPRD Provinsi Lampung berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan pasokan dan harga sapi, sehingga aktivitas perdagangan dapat kembali normal serta kebutuhan masyarakat terhadap daging sapi tetap terpenuhi. (Red/Adv)







