Kemensos Perkuat Hilirisasi Kakao Organik di Ende, 150 KPM Disiapkan Naik Kelas Menuju Kemandirian Ekonomi

Ende – Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial terus mendorong transformasi penerima bantuan sosial menjadi keluarga mandiri dan produktif. Salah satunya melalui program pemberdayaan ekonomi bagi 150 petani kakao yang berasal dari Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Program tersebut difokuskan pada penguatan budidaya dan hilirisasi kakao organik sebagai upaya meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat posisi Ende sebagai salah satu sentra kakao unggulan nasional.

Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib, menegaskan bahwa pemberdayaan merupakan langkah strategis pemerintah untuk memastikan masyarakat miskin tidak hanya menerima bantuan sosial, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk tumbuh mandiri secara ekonomi.

“Semangat pemberdayaan adalah menjangkau masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh pembangunan. Kita ingin keluarga penerima manfaat memiliki kemampuan untuk berkembang, meningkatkan pendapatan, dan pada akhirnya dapat graduasi dari kepesertaan bantuan sosial,” ujar Zubaedi saat menghadiri kegiatan Kerja Sama Pemberdayaan Sosial Menuju Kemandirian Ekonomi Petani Kakao Organik di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.

Dalam program tersebut, Kementerian Sosial menyalurkan bantuan stimulus senilai Rp826 juta yang terdiri dari bibit kakao unggul, sarana produksi organik, alat dan mesin pertanian, hingga fasilitas pascapanen yang akan mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas hasil kakao petani.

Sebanyak 150 petani kakao penerima manfaat yang tergabung dalam Koperasi Produsen Agro Niaga Asosiasi Petani Kakao Nangapanda (KOPAN-SIKAP) menjadi sasaran program. Mereka berasal dari Kecamatan Nangapanda dan Kecamatan Ende yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor perkebunan kakao.

Potensi kakao di Kabupaten Ende sendiri sangat besar. Tercatat luas perkebunan kakao mencapai 7.498 hektare. Namun, berbagai tantangan masih dihadapi petani, mulai dari rendahnya produktivitas, serangan hama, keterbatasan teknologi budidaya, hingga lemahnya akses pasar yang menyebabkan nilai tambah komoditas belum optimal dirasakan petani.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Sosial tidak hanya memberikan bantuan sarana produksi, tetapi juga membangun kemitraan strategis dengan sektor swasta melalui kerja sama dengan PT Mega Inovasi Organik (MIO), perusahaan pengelola kakao organik berorientasi pasar global.

Melalui kerja sama ini, PT MIO berperan sebagai penjamin pasar (off-taker) yang berkomitmen membeli hasil produksi kakao organik petani dengan harga premium, khususnya bagi produk yang memenuhi standar sertifikasi internasional.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Direktur Pemberdayaan Sosial Masyarakat Kemensos Adrianus Alla dan Direktur PT Mega Inovasi Organik Dippos Naloanro Simanjuntak.

“Harapannya, dari Ende akan lahir generasi petani kakao organik yang mampu bersaing di pasar global dan menembus pasar ekspor. Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi mampu menikmati nilai tambah dari produk yang mereka hasilkan,” kata Zubaedi.

Bagi para penerima manfaat, program ini menjadi harapan baru untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Salah satunya dirasakan Imelda Yunimani yang menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diterimanya.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan ini. Alat-alat dan bibit yang diberikan akan kami manfaatkan sebaik mungkin. Kami akan merawatnya agar dapat terus digunakan untuk meningkatkan hasil usaha kami,” ujar Imelda.

Sementara itu, Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda mengapresiasi langkah Kementerian Sosial yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga menghadirkan model pemberdayaan yang berkelanjutan.

Menurutnya, program ini menjadi peluang besar bagi para petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ekonomi daerah yang bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan.

“Bantuan yang diberikan bukan sekadar dukungan ekonomi, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat untuk bangkit, berkembang, dan mandiri. Kami berharap para petani dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya sehingga kesejahteraan keluarga dan perekonomian daerah semakin meningkat,” ujar Yosef.

Program pemberdayaan petani kakao organik ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Tidak hanya membantu masyarakat keluar dari kemiskinan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang. (Red/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *