Jakarta – Mimpi besar terkadang tumbuh dari tempat yang sederhana. Bagi Ismi Ulfaida, menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Namun, gadis 16 tahun asal Desa Bonra, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, itu kini justru berhasil mengukir sejarah sebagai siswa Sekolah Rakyat pertama yang lolos hingga tingkat nasional.
Nama Ismi resmi diumumkan sebagai salah satu Calon Paskibraka yang mewakili Provinsi Sulawesi Barat. Ia terpilih bersama 75 putra-putri terbaik lainnya dari 38 provinsi untuk mengikuti Pembinaan dan Pelatihan Calon Paskibraka Tingkat Pusat Tahun 2026.
Pengumuman yang disampaikan pada 22 Juni 2026 tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ismi, anak ketiga dari pasangan Rahman dan Suburia. Baginya, keberhasilan tersebut menjadi pengalaman pertama sekaligus pencapaian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
“Ini baru pertama kalinya saya menjadi Paskibra,” ujar Ismi malu-malu saat ditemui di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Ismi tumbuh dalam keluarga sederhana. Kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh tani dan tinggal bersama kelima anaknya di sebuah rumah semi permanen seluas sekitar 74 meter persegi. Keterbatasan ekonomi tidak pernah memadamkan keinginannya untuk terus belajar dan meraih prestasi.
Justru di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 22 Polewali Mandar, Ismi menemukan ruang untuk mengembangkan potensi dirinya.
Saat duduk di bangku SMP, Ismi belum pernah menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera di sekolah. Ia baru mengenal dunia baris-berbaris melalui kegiatan ekstrakurikuler Pramuka setelah bersekolah di Sekolah Rakyat.
Dukungan dari sekolah kemudian membuatnya semakin percaya diri. Selain mendaftarkan Ismi mengikuti seleksi Paskibraka, SRT 22 Polewali Mandar memberikan pembinaan Wawasan Kebangsaan dan Tes Intelegensia Umum (TIU), pengayaan kesenian, serta latihan baris-berbaris secara intensif.
Keinginan Ismi menjadi Paskibraka semakin kuat ketika melihat sosok Bianca Alessia Christabella Lantang, pembawa baki Paskibraka Nasional 2025 asal Sulawesi Utara. Meski hanya menyaksikannya melalui media sosial, sosok Bianca menjadi inspirasi bagi Ismi untuk berani bermimpi dan berprestasi.
Perjalanan menuju Paskibraka nasional pun tidak mudah. Seleksi yang dilaksanakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) berlangsung secara bertahap mulai tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
Pada setiap tahapan, para peserta harus melewati verifikasi administrasi, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU), kesamaptaan, pelatihan baris-berbaris, tes kepribadian, serta minat dan bakat. Pada tingkat provinsi, peserta juga menjalani psikotes.
Ismi harus bersaing dengan 119.441 pendaftar dari seluruh Indonesia. Pada awalnya, ia hanya menargetkan dapat menjadi anggota Paskibraka di tingkat provinsi. Namun, kerja keras, kedisiplinan, dan dukungan dari berbagai pihak membawanya melangkah jauh hingga tingkat nasional.
Keberhasilan itu sekaligus mengantarkan Ismi ke Jakarta untuk menjalani karantina, pembinaan, dan latihan terpusat.
Jauh dari orang tua menjadi tantangan tersendiri. Sebelum mengikuti pelatihan nasional, Ismi masih dapat bertemu kedua orang tuanya setiap dua minggu sekali di Sekolah Rakyat. Kini, jarak membuatnya hanya dapat menahan rindu sambil berfokus menjalani latihan.
Namun, rasa rindu justru menjadi penyemangat. Ismi ingin menjalani seluruh proses dengan sungguh-sungguh agar dapat memberikan kebanggaan kepada kedua orang tuanya.
“Mama, Papa, sehat-sehat ya di sana, jaga kesehatan, tunggu Ismi pulang,” kata Ismi.
Sejak 14 Juli 2026, Ismi menjalani Pembinaan dan Pelatihan Calon Paskibraka Tingkat Pusat Tahun 2026. Kedisiplinan yang telah terbentuk selama belajar di Sekolah Rakyat membuatnya relatif mudah beradaptasi dengan pola kehidupan selama karantina.
“Bangun tidur, terus mandi, sholat. Habis itu olahraga pagi, lanjut latihan sampai jam tujuh, ishoma, latihan lagi sampai jam lima sore, sholat Maghrib, makan malam, sholat Isya. Kalau ada materi, materi dulu. Kalau enggak ada, langsung istirahat. Mirip di Sekolah Rakyat,” tutur Ismi.
Kini, Ismi tinggal menunggu momen bersejarah pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, 17 Agustus 2026. Ia bertekad memberikan kemampuan terbaik dan membawa kebanggaan bagi kedua orang tua, guru, tenaga pendidik, teman-teman, serta seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan panjangnya.
Meski menjadi satu-satunya siswa Sekolah Rakyat yang berhasil menembus tingkat nasional, Ismi tidak ingin keberhasilannya membuatnya berpuas diri. Ia justru mengajak anak-anak lain untuk berani bermimpi dan tidak menyerah pada keadaan.
“Untuk teman-teman di luar sana, tetap semangat ya. Jangan putus asa, jangan mudah menyerah,” pesan Ismi.
Keberhasilan Ismi juga mendapat apresiasi dari Wakil Kepala BPIP selaku Pengarah Program Paskibraka, Rima Agristina. Menurut Rima, keikutsertaan siswa Sekolah Rakyat dalam seleksi Paskibraka menunjukkan bahwa program tersebut telah membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi.
“Kami mencatat ada 170 siswa Sekolah Rakyat yang mendaftar untuk ikut Program Paskibraka ini. Ini juga apresiasi untuk Kementerian Sosial dan juga semua pelaksana dari Sekolah Rakyat karena berhasil memberikan kesempatan kepada adik-adiknya untuk mengikuti program ini,” kata Rima.
Dari 170 siswa Sekolah Rakyat yang mengikuti seleksi, sebanyak 48 siswa berhasil lolos pada tingkat kabupaten/kota dan dua siswa melaju hingga tingkat provinsi. Ismi menjadi satu-satunya siswa Sekolah Rakyat yang berhasil menembus seleksi hingga tingkat nasional pada 2026.
Kisah Ismi menjadi bukti bahwa kesempatan dapat mengubah arah sebuah perjalanan. Dari keluarga sederhana di Polewali Mandar, melalui Sekolah Rakyat, ia kini berdiri di panggung nasional membawa nama Sulawesi Barat.
Lebih dari sekadar keberhasilan menjadi calon Paskibraka, perjalanan Ismi menunjukkan bahwa ketika kesempatan, pembinaan, disiplin, dan dukungan diberikan secara bersamaan, anak-anak dari keluarga sederhana pun mampu berdiri sejajar dan mengukir prestasi di tingkat nasional. (Red)







