Ikhtiar Payungi, Gramedia & Penerbit Buku Lokal Menyulap Gang Kampung Menjadi Rumah Buku

Metro – Bagaimana sebuah kota layak menyandang predikat “Kota Pendidikan” jika etalase bukunya mati suri? Pertanyaan retoris itulah yang tampaknya sedang dijawab oleh Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi). Memasuki usia sewindu (8 tahun) perjalanannya sebagai penggerak ekonomi kreatif, Payungi kembali membuat gebrakan di luar pakem dengan merambah ranah literasi: menghadirkan sebuah ekosistem toko buku terintegrasi di dalam gang kampung.

Langkah ini bukan sekadar romantisasi gerakan membaca. Payungi secara strategis menggandeng raksasa penerbitan nasional, Gramedia, untuk menyuplai terbitan-terbitan lengkap langsung ke jantung pemukiman warga di Metro. Kehadiran lini baru ini sekaligus melengkapi ekosistem Payungi Space yang sebelumnya telah hidup lewat fasilitas Library, Homestay, dan Culinary.

Menantang Arus Utama di Kota Pendidikan

Selama ini, Metro kerap menggaungkan narasi sebagai pusat pendidikan di Lampung. Namun, upaya serius untuk menghidupkan toko buku sebagai destinasi kultural yang memikat dinilai masih minim. Buku seringkali terjebak di ruang-ruang formal persekolahan atau rak-rak berdebu yang sepi peminat.

Payungi mencoba meruntuhkan tembok pembatas tersebut. Mereka tidak bergerak sendiri. Jauh sebelum bersalaman dengan Gramedia, jaringan lokal telah dijalin erat bersama penerbit-penerbit indie seperti Agree Media, Laduny, dan Insight Pustaka. Kolaborasi lintas skala ini mengusung satu misi besar: menciptakan sebuah kampung yang riuh dan “ramai oleh buku.”

“Kami ingin membuktikan bahwa ruang literasi yang hidup, inklusif, dan berkualitas tidak harus selalu berada di mal besar atau pusat kota. Ia bisa tumbuh subur, bahkan dari dalam sebuah kampung dan gang kecil,” ungkap Irfan Fauzi Rachman pengelola Payungi Space.

Bukan Sekadar Jualan, Tapi Merawat Ekosistem

Payungi paham betul bahwa toko buku yang sekadar memajang barang dagangan akan cepat mati digilas zaman digital. Oleh karena itu, yang mereka tawarkan adalah pengalaman dan interaksi (ekosistem). Toko buku baru ini dirancang menjadi ruang publik yang adaptif. Berbagai aktivasi komunitas telah dijadwalkan secara simultan untuk memastikan denyut nadi literasi tidak berhenti pada seremoni peresmian. Beberapa program andalan yang siap bergulir antara lain

Sunday Reading WES Payungi: Agenda rutin baca bareng setiap dua minggu sekali. Kanal Ekspresi: Malam Puisi dan Diskusi Novel sebagai ruang temu para penikmat sastra. Pemberdayaan Skill: Kelas Menulis bagi anak-anak muda yang ingin mengasah gagasan. Puncak Acara: Pameran Buku (Book Fair) berskala besar yang direncanakan mendobrak sunyi pada bulan Oktober mendatang.

Dengan integrasi antara kuliner lokal, penginapan berbasis warga (homestay), dan akses buku berkualitas, Payungi sedang mendefinisikan ulang cara warga bernalar dan berdaya. Di tengah skeptisisme publik terhadap minat baca, dari sebuah gang kecil di Metro, lilin literasi itu justru sedang dinyalakan dengan begitu terang. (Red/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *