Jakarta – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kementerian Sosial menjadi momentum istimewa ketika Nazila Barqiah Harum, siswi Sekolah Rakyat 4 Jakarta, membacakan puisi berjudul “Kamipun Ingin Merdeka” di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, serta jajaran pejabat dan pegawai Kementerian Sosial di Gedung Aneka Bhakti, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Dengan suara lantang dan penuh penghayatan, Nazila menyampaikan pesan tentang makna kemerdekaan dari perspektif anak-anak yang selama ini berada dalam keterbatasan. Penampilannya tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian acara, tetapi juga menghadirkan suara generasi muda yang ingin memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, bermimpi, dan membangun masa depan.
“Dahulu para pahlawan berjuang agar Indonesia merdeka. Hari ini, mari kita berjuang agar setiap anak Indonesia merasakan kemerdekaan!” ucap Nazila.
Pesan tersebut seolah menjadi refleksi bahwa perjuangan kemerdekaan tidak berhenti setelah Indonesia terbebas dari penjajahan. Bagi anak-anak Sekolah Rakyat, perjuangan hari ini adalah membebaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, serta rasa takut untuk bermimpi.
Dalam puisinya, Nazila mengangkat perjuangan para pahlawan bangsa, mulai dari Bung Karno, Bung Hatta, KH Hasyim Asy’ari, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Cut Nyak Dien, Pattimura hingga Sultan Hasanuddin. Perjuangan mereka kemudian dihubungkan dengan perjuangan anak-anak Sekolah Rakyat di masa kini.
“Kami adalah anak-anak Sekolah Rakyat. Perjuangan kami adalah belajar. Musuh kami adalah kebodohan. Yang ingin kami kalahkan adalah kemiskinan,” demikian salah satu bagian puisi yang dibacakan Nazila.
Ia juga menyampaikan keyakinan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga bukan alasan bagi seorang anak untuk kehilangan hak atas pendidikan dan masa depan.
“Kami mungkin datang dari keluarga sederhana. Tetapi kami percaya: kami berhak sekolah, kami berhak bermimpi, kami berhak punya masa depan,” katanya.
Penampilan Nazila mendapat perhatian dari seluruh peserta yang hadir. Para siswa Sekolah Rakyat lainnya juga turut ambil bagian dengan menampilkan paduan suara, menambah semarak peringatan kemerdekaan di lingkungan Kemensos.
Sementara itu, para pegawai Kemensos dari berbagai unit kerja menampilkan yel-yel dengan membawa atribut bernuansa merah putih. Mengenakan kaos hitam bertuliskan “Kemensos Hemat Layanan Hebat Tanpa Korupsi”, mereka mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan kekompakan.
Mensos Gus Ipul mengatakan, peringatan HUT RI menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan gotong royong di lingkungan Kemensos. Semangat tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diterapkan dalam pelaksanaan program pelayanan sosial kepada masyarakat.
“Semangat dari perayaan ini adalah membangun sinergi kolaborasi antarunit kerja supaya ke depan program-program kita bisa lebih efektif,” kata Gus Ipul.
Menurutnya, kolaborasi juga harus diperluas dengan kementerian dan lembaga lain serta pemerintah daerah sehingga program pemerintah dapat berjalan lebih terintegrasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul kembali mengingatkan seluruh jajaran Kemensos untuk menjunjung tinggi kejujuran, keterbukaan, dan integritas dalam menjalankan tugas.
“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, kita harus jujur, kita harus terbuka terhadap segala hal, termasuk tentang data-data kita yang kita miliki,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya meninggalkan kebiasaan lama yang berpotensi menimbulkan penyimpangan dalam pengelolaan anggaran dan pelayanan publik.
“Jangan korupsi. Lupakan kebiasaan lama, tinggalkan kebiasaan lama,” tegasnya.
Gus Ipul menilai konsolidasi data menjadi salah satu bagian penting dalam strategi pemerintah untuk memastikan program perlindungan sosial semakin tepat sasaran. Menurutnya, perbaikan data turut mendukung efektivitas bantuan sosial dan menjadi bagian dari upaya menurunkan angka kemiskinan.
“Strateginya sudah mulai menampakkan hasil, yaitu konsolidasi data. Sehingga bansos-bansos kita lebih tepat sasaran, efektif, dan itu bisa menurunkan kemiskinan,” jelasnya.
Semangat kemerdekaan kemudian ditutup dengan pembukaan berbagai perlombaan HUT ke-81 RI. Gus Ipul bersama Wamensos Agus Jabo Priyono, Sekjen Kemensos Robben Rico, dan Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo secara simbolis membuka kegiatan dengan bermain bulu tangkis.
Berbagai perlombaan turut digelar, antara lain futsal, voli, tenis meja, catur, tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, sendok kelereng, estafet, dan sejumlah permainan lainnya.
Namun, di tengah kemeriahan tersebut, pesan Nazila melalui puisinya menjadi salah satu bagian paling kuat dari peringatan kemerdekaan tahun ini. Sebab, melalui suara seorang anak Sekolah Rakyat, kemerdekaan diterjemahkan bukan hanya sebagai kebebasan bangsa, tetapi juga sebagai hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan mengubah masa depan.
“Dahulu para pahlawan berjuang agar Indonesia merdeka. Hari ini, mari kita berjuang agar setiap anak Indonesia merasakan kemerdekaan.”
Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari kemiskinan. Merdeka dari rasa takut untuk bermimpi. (Red)







