Puluhan Tahun Pakai Getek, Kini Warga Pringsewu Nikmati Jembatan Baru

Pringsewu – Deru air Sungai Way Sekampung selama puluhan tahun menjadi batas aktivitas masyarakat di Pekon Jogjakarta, Dusun 3, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu. Selama ini warga harus mengandalkan getek atau rakit bambu untuk menyeberangi sungai tersebut.

Kini kondisi itu berubah setelah Jembatan Perintis Garuda resmi dibangun dan dioperasikan. Jembatan ini menghubungkan Pekon Sukoharjo IV dengan Pekon Jogjakarta, sehingga mempermudah mobilitas masyarakat di kedua wilayah.

Peresmian jembatan dilakukan oleh Pangdam XXI/Raden Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi pada Senin (9/3/2026).

Kristomei menjelaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari program TNI Angkatan Darat yang secara serentak meresmikan 200 jembatan di berbagai wilayah Indonesia.

“Hari ini kita melaksanakan peresmian jembatan yang dipimpin langsung oleh Bapak Kepala Staf Angkatan Darat secara serentak untuk pembangunan 200 jembatan di seluruh Indonesia,” ujar Kristomei.

Ia menambahkan bahwa jembatan di Pringsewu ini merupakan Jembatan Perintis Garuda kedua yang diresmikan di wilayah Kodam XXI/Raden Inten. Sebelumnya, jembatan serupa juga telah dibangun di Pekon Way Umbar, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus.

Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 80 meter dengan lebar 1,2 meter dan dibangun dengan anggaran sekitar Rp527 juta.

Proses pembangunannya memakan waktu hampir satu bulan dengan melibatkan prajurit TNI AD dari Kodim 0424/Tanggamus, relawan Vertical Rescue Indonesia, Bhabinkamtibmas, serta unsur pemerintah daerah dan masyarakat.

Menurut Kristomei, keberadaan jembatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat, khususnya dalam mendukung kegiatan perekonomian dan mobilitas pelajar.

“Harapannya masyarakat di kedua pekon dapat memanfaatkan jembatan ini untuk aktivitas ekonomi, serta memudahkan anak-anak sekolah agar aksesnya lebih cepat dan aman,” katanya.

Sementara itu, Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas menyampaikan apresiasi kepada TNI yang telah berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam merealisasikan pembangunan jembatan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya akses penyeberangan di lokasi tersebut sering terputus ketika debit air sungai meningkat.

“Ketika banjir, masyarakat hampir tidak bisa melakukan aktivitas karena sungai meluap. Saat air surut, warga biasanya menyeberang menggunakan getek,” ujar Riyanto.

Dengan adanya jembatan tersebut, menurutnya akses masyarakat kini jauh lebih mudah, terutama untuk mendukung aktivitas di sektor pertanian, perikanan, peternakan, serta pendidikan.

“Anak-anak sekolah sekarang lebih mudah aksesnya. Begitu juga warga yang membawa pupuk atau hasil pertanian, tidak perlu lagi memutar jauh,” katanya.

Bagi warga setempat, pembangunan jembatan ini menjadi perubahan besar setelah puluhan tahun bergantung pada sarana penyeberangan sederhana.

Cipto Wardoyo (54), salah satu warga, mengatakan sejak tahun 1980 masyarakat di kawasan tersebut menyeberang menggunakan getek atau rakit bambu.

“Dulu menyeberang pakai getek dari bambu,” ujarnya.

Ia mengaku sering melintasi sungai tersebut untuk berdagang sangkar burung ke wilayah Pringsewu. Dengan adanya jembatan baru, aktivitasnya kini menjadi jauh lebih mudah dan aman.

“Terima kasih sudah dibuatkan jembatan dari negara,” katanya.

Pemerintah daerah bersama TNI berharap masyarakat dapat menjaga dan merawat jembatan tersebut agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang serta terus memberikan manfaat bagi warga di kedua pekon. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *