Banten – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Akuntansi Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang bersama dosen pendamping melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di UMKM Keripik Kacang Ijo “Mang Salman” Kelurahan Bendungan, Kecamatan Cilegon, Banten.
Kegiatan tersebut berfokus pada
peningkatan literasi akuntansi melalui penyusunan laporan keuangan sederhana yang mudah diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Kegiatan dengan tema “Peningkatan Literasi Akuntansi UMKM melalui Penyusunan Laporan
Keuangan Sederhana sebagai “Upaya Mendukung Pengembangan Usaha” ini melibatkan tim mahasiswa yang didampingi dosen, yakni Vani Vauliyanti dan Listia Aulia Indy.
Sementara itu, UMKM Keripik Kacang Ijo “Mang Salman” dikelola oleh Sofiah
sebagai mitra dalam kegiatan tersebut.
UMKM “Mang Salman” merupakan usaha yang memproduksi dan menjual makanan ringan berupa keripik berbahan tepung tapioka dengan kacang hijau sebagai topping.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang menjadi dasar kegiatan, pengelolaan keuangan usaha masih dilakukan secara sederhana dan belum terstruktur.
Pencatatan pemasukan dan pengeluaran belum dilakukan secara rutin menggunakan buku kas, sementara penyusunan laporan laba rugi dan perhitungan HPP juga belum dilakukan secara teratur.
Kondisi tersebut dapat membuat pelaku usaha kesulitan mengetahui jumlah pemasukan, pengeluaran, perkembangan kas, serta keuntungan usaha secara lebih jelas.
Karena hal tersebut, tim PKM
tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi juga menyiapkan pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan agar materi akuntansi dapat diterapkan sesuai dengan kondisi usaha.
Ketua tim PKM, Angga Surya Saputra, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman akuntansi yang praktis dan mudah diterapkan oleh pelaku UMKM.
“Kegiatan ini kami lakukan untuk membantu pelaku UMKM memahami pentingnya pencatatan keuangan dalam menjalankan usaha. Kami tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mengajak peserta untuk mempraktikkan pencatatan transaksi, menghitung HPP, dan memahami laporan keuangan sederhana yang dapat digunakan dalam kegiatan usaha sehari-hari,” ujar Angga.
Sebelum materi diberikan, peserta mengikuti pre-test literasi akuntansi untuk mengetahui pemahaman awal mengenai dasar-dasar pengelolaan keuangan usaha. Pertanyaan dalam pre-test dibuat sederhana dan dekat dengan aktivitas sehari-hari, seperti manfaat mencatat uang masuk dan keluar, mengetahui keuntungan atau kerugian, serta risiko apabila pengeluaran tidak dicatat.
Pendekatan tersebut disesuaikan dengan karakteristik peserta agar materi akuntansi tidak terasa rumit. Setelah pre-test, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai pentingnya pencatatan keuangan, termasuk pemisahan uang usaha dan uang pribadi.
Dosen pendamping Vani Vauliyanti, menjelaskan bahwa pencatatan keuangan tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Menurutnya, pencatatan sederhana yang dilakukan secara rutin dapat membantu pemilik usaha memahami kondisi keuangannya.
“Bagi pelaku UMKM, pencatatan keuangan dapat dimulai dari hal yang sederhana. Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin serta memisahkan uang usaha dan uang pribadi, pemilik usaha dapat lebih mudah mengetahui kondisi keuangan dan perkembangan
usahanya,” jelas Vani.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pelatihan buku kas sederhana. Peserta diberikan contoh pencatatan uang masuk dan uang keluar berdasarkan transaksi usaha. Tim juga menjelaskan pentingnya menyimpan bukti transaksi dan membiasakan pencatatan dilakukan pada hari yang
sama.
Selain buku kas, peserta diperkenalkan dengan Harga Pokok Produksi (HPP) dan laporan laba rugi sederhana. Perhitungan HPP diberikan untuk membantu pelaku usaha memahami biaya yang berkaitan dengan proses produksi, sedangkan laporan laba rugi digunakan untuk melihat perbandingan pendapatan dan biaya sehingga keuntungan atau kerugian usaha dapat diketahui.
Dosen pendamping Listia Aulia Indy, S.Ak., M.Ak. mengatakan materi diberikan dengan
pendekatan yang sederhana agar dapat langsung dipraktikkan oleh pelaku usaha.
“Materi kami sesuaikan dengan kebutuhan UMKM agar lebih mudah dipahami dan diterapkan. Peserta tidak hanya dikenalkan pada pencatatan transaksi, tetapi juga diarahkan untuk memahami perhitungan HPP dan laporan laba rugi sederhana sehingga catatan keuangan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi usahanya,” tutur Listia.
Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti praktik menggunakan contoh transaksi usaha. Praktik tersebut mencakup pencatatan pemasukan dan pengeluaran, pemisahan pengambilan uang untuk kebutuhan pribadi, serta penghitungan sederhana untuk mengetahui hasil usaha. Pendekatan praktik dipilih agar peserta tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga dapat mencoba langsung cara menerapkannya.
Sebagai bagian dari evaluasi, peserta kemudian mengikuti post-test literasi akuntansi. Jika pretest digunakan untuk melihat pemahaman awal, post-test digunakan untuk melihat pemahaman
peserta setelah memperoleh materi dan mengikuti praktik. Soal post-test juga dibuat sederhana, antara lain mengenai pemisahan uang usaha dan kebutuhan rumah tangga, waktu pencatatan
transaksi, penghitungan keuntungan sederhana, serta pencatatan pengambilan uang untuk
keperluan pribadi.
Pemilik UMKM Keripik Kacang Ijo “Mang Salman” Sofiah, menyampaikan bahwa
pendampingan tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya pencatatan keuangan
dalam kegiatan usaha.
“Sebelumnya pencatatan keuangan masih dilakukan secara sederhana. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya menjadi lebih memahami pentingnya mencatat pemasukan dan pengeluaran,
memisahkan uang usaha dengan kebutuhan pribadi, serta mengetahui cara sederhana untuk melihat keuntungan usaha,” ungkap Sofiah.
Melalui kegiatan tersebut, permasalahan pencatatan keuangan yang sebelumnya belum terstruktur mulai diarahkan pada penggunaan buku kas sederhana yang dapat digunakan secara
rutin. Pemahaman mengenai HPP dan laporan laba rugi juga diharapkan membantu pemilik
usaha mengetahui biaya produksi dan hasil usaha dengan lebih jelas.
Tidak hanya untuk mengetahui kondisi keuangan, pencatatan yang lebih teratur juga dapat menjadi dasar bagi pemilik usaha dalam mengambil keputusan, seperti mengatur stok, mengendalikan pengeluaran, dan merencanakan kebutuhan modal. Dengan demikian, pencatatan
keuangan tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi juga dapat digunakan sebagai salah
satu dasar dalam mengembangkan usaha.
Kegiatan PKM ini diharapkan dapat mendorong UMKM Keripik Kacang Ijo “Mang Salman” untuk melanjutkan pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara konsisten, melakukan
perhitungan HPP, serta menyusun laporan laba rugi sederhana secara mandiri. Pendampingan
tersebut menjadi langkah awal untuk membangun pengelolaan keuangan yang lebih tertata dan
mendukung keberlanjutan usaha. ***







