Banten – Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Banten menggelar diskusi kebangsaan di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Minggu (14/6/2026). Diskusi tersebut diikuti oleh mahasiswa dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Universitas Primagraha (UPG), dan Universitas Bina Bangsa (UNIBA).
Kegiatan diskusi dipantik secara langsung oleh Nurhidayat yang mengajak peserta untuk membahas berbagai dinamika nasional, termasuk maraknya ajakan demonstrasi yang mengusung isu “Reformasi Jilid 2.” Forum berlangsung secara terbuka dengan mengedepankan pertukaran gagasan, argumentasi, serta kajian terhadap situasi sosial, politik, dan ekonomi yang sedang berkembang.
Dalam paparannya, Nurhidayat menekankan pentingnya mahasiswa tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara kritis, namun tetap mengedepankan pendekatan yang konstruktif serta berorientasi pada penyelesaian persoalan bangsa.
“Mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan aspirasi. Namun menurut saya, perubahan tidak cukup hanya dengan menyerukan pergantian rezim. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap kritik disertai solusi yang nyata agar persoalan bangsa dapat diselesaikan tanpa memperbesar risiko ketidakstabilan,” ujar Nurhidayat saat membuka diskusi.
Ia menilai bahwa kondisi ekonomi global yang penuh tantangan perlu menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, stabilitas nasional merupakan faktor penting agar pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat bersama-sama menghadapi berbagai tekanan ekonomi yang sedang terjadi.
“Ketika kondisi ekonomi sedang menghadapi tekanan dan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan, yang dibutuhkan adalah ketenangan, dialog, dan solusi bersama. Situasi yang tidak kondusif justru dapat memperbesar ketidakpastian dan berdampak terhadap kepercayaan masyarakat maupun dunia usaha,” lanjutnya.
Selama diskusi berlangsung, para peserta juga bertukar pandangan mengenai peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Berbagai pendapat mengemuka mengenai pentingnya menjaga tradisi intelektual kampus melalui kajian akademik, riset, diskusi publik, serta penyampaian aspirasi secara damai dan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi.
Nurhidayat juga mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan mahasiswa memiliki kontribusi besar dalam perjalanan bangsa. Oleh karena itu, setiap gerakan mahasiswa perlu dibangun di atas landasan argumentasi yang kuat, data yang valid, dan semangat mencari jalan keluar atas berbagai persoalan publik.
“Gerakan mahasiswa akan lebih bermakna apabila mampu menghadirkan gagasan, rekomendasi kebijakan, dan solusi yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi, tetapi dialog dan pemikiran yang matang tetap menjadi kekuatan utama mahasiswa,” katanya.
Diskusi tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat budaya literasi, memperluas ruang diskusi lintas kampus, serta mendorong mahasiswa agar tetap kritis, independen, dan mengedepankan penyampaian aspirasi secara damai, sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia. ***







