Oleh: Bagas Yulianto, Peserta LK 3 HMI Badko Jawa Timur
Opini – Bagas Yulianto melihat di Era Society menempatkan manusia sebagai pusat peradaban di tengah percepatan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan arus informasi tanpa batas.
Bagas menyebut dalam situasi seperti ini, kepemimpinan tidak lagi cukup dimaknai sebagai sebatas kemampuan mengatur atau memobilisasi massa, tetapi harus berangkat dari kesadaran nilai, integritas moral serta keberpihakan pada kemanusiaan.
Dari sinilah Bagas menyebut bahwa relevansi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) menemukan momentumnya sebagai sebuah fondasi kepemimpinan yang berkarakter.
NDP menegaskan bahwa kepemimpinan harus berpijak pada ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Di era 5.0, nilai-nilai tersebut menjadi penyeimbang di tengah potensi dehumanisasi akibat teknologi.
Pemimpin yang berlandaskan NDP tidak akan terjebak pada logika efisiensi semata, melainkan menjadikan teknologi sebagai alat pembebasan, bukan penindasan.
Kepemimpinan yang lahir dari refleksi NDP adalah kepemimpinan yang sadar akan etika, berani mengambil sikap, serta konsisten menjaga keberpihakan pada kaum lemah dan kepentingan publik.
Sementara itu, wawasan Nusantara di era 5.0 menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Fragmentasi sosial, polarisasi politik, serta penetrasi budaya global sering kali menggerus rasa kebangsaan dan solidaritas nasional.
Dalam konteks ini, Wawasan Nusantara tidak boleh berhenti sebagai doktrin geografis atau slogan persatuan, tetapi harus dimaknai sebagai kesadaran kolektif untuk menjaga keutuhan bangsa dalam ruang fisik maupun digital.
Kepemimpinan masa kini dituntut mampu merawat persatuan, membaca keragaman sebagai kekuatan, dan menjembatani kepentingan lokal dengan visi nasional.
Integrasi antara NDP dan Wawasan Nusantara melahirkan model kepemimpinan yang tidak hanya cakap secara intelektual dan digital, tetapi juga matang secara moral dan ideologis.
Pemimpin di era 5.0 harus memiliki daya refleksi, kepekaan sosial, serta keberanian moral untuk melawan ketidakadilan struktural yang kerap bersembunyi di balik kemajuan teknologi.
Tanpa refleksi nilai, kepemimpinan berpotensi kehilangan arah dan tercerabut dari realitas kebangsaan.
Dengan demikian, refleksi kepemimpinan berbasis NDP dan Wawasan Nusantara di era Society 5.0 menjadi kebutuhan mendesak.
Ia bukan sekadar materi kaderisasi, melainkan kompas etik dan ideologis bagi lahirnya pemimpin yang visioner, berkarakter, dan berakar pada nilai keindonesiaan.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, kepemimpinan yang bernilai adalah jawaban atas tantangan zaman. ***













