Jakarta – Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperkuat pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas netra melalui dukungan terhadap Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Dukungan tersebut mencakup penyediaan fasilitas, pelatihan keterampilan, program rehabilitasi sosial, hingga pengembangan akses usaha bagi para penyandang tunanetra.
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat menerima audiensi Ketua Umum Pertuni, Setiawan Gema Budi, di Kafe Selalu Ada Kopi, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
“Ini (Pertuni) punya gedung, gedungnya sudah siap. Tinggal dibantu fasilitasnya itu,” kata Gus Ipul.
Menurut Gus Ipul, penguatan fasilitas organisasi diperlukan agar dapat menjadi pusat pengembangan keterampilan sekaligus pemberdayaan ekonomi bagi penyandang tunanetra.
Ia menjelaskan bahwa Kemensos akan mengintegrasikan program rehabilitasi sosial dan pemberdayaan ekonomi agar para penyandang disabilitas tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan usaha secara mandiri.
“Kalau pemberdayaan itu kan membantu supaya asetnya dan aksesnya bertambah. Nanti ability-nya dari (Direktorat Jenderal) Rehsos,” jelasnya.
Dalam skema tersebut, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial bertugas memperkuat kapasitas dan keterampilan penerima manfaat melalui pelatihan, sementara program pemberdayaan diarahkan untuk memperluas akses usaha serta meningkatkan produktivitas ekonomi penyandang disabilitas.
Ketua Umum Pertuni, Setiawan Gema Budi, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kemensos yang dinilai telah memberikan manfaat nyata bagi anggota organisasi.
“Alhamdulillah dua tahun terakhir ini Kemensos sangat support terkait program pemberdayaan dengan teman-teman tunanetra,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu program yang telah berjalan adalah pelatihan massage dan refleksi bagi penyandang tunanetra yang dilaksanakan secara bertahap selama tiga bulan, mulai April hingga Juni 2026.
“Kita dilatih terkait persiapan panti pijat tunanetra untuk massage dan refleksi. Itu sudah dilakukan selama tiga bulan bertahap dari bulan April sampai Juni,” kata Setiawan.
Selain pelatihan, Kemensos juga memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Lokakarya Nasional Pertuni yang dijadwalkan berlangsung pada 3–5 November 2026 di Margaguna, Jakarta Selatan.
Menurut Setiawan, Kemensos memfasilitasi berbagai kebutuhan penyelenggaraan kegiatan, mulai dari penginapan, konsumsi, transportasi, hingga dukungan teknis lainnya.
“Kita terfasilitasi, termasuk penginapan, konsumsi, penjemputan, dan segala keperluan secara teknis. Kita di-cover semua,” ungkapnya.
Sebagai organisasi penyandang disabilitas netra terbesar di Indonesia, Pertuni yang berdiri pada 26 Januari 1966 di Surakarta kini memiliki kepengurusan di 34 provinsi dan sekitar 300 kabupaten/kota. Melalui sinergi dengan Kemensos, Pertuni terus mendorong penguatan layanan, peningkatan kapasitas, serta perluasan kesempatan kerja dan usaha bagi penyandang tunanetra di seluruh Indonesia. (Red/Adv)













