Bogor – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menggelar kegiatan Open House Sekolah Rakyat sebagai bagian dari rangkaian menjelang satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang dimulai pada Juli 2025. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat, khususnya calon siswa dan orang tua, untuk melihat langsung proses pembelajaran, kehidupan asrama, serta perkembangan para siswa yang selama ini mendapatkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
Kegiatan Open House kali ini berlangsung di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026), dan dihadiri langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.
“Hari ini kita diberi kesempatan untuk bersilaturahmi, bertemu dengan Bapak-Ibu sekalian dalam rangka kegiatan Open House Sekolah Rakyat menjelang satu tahun dimulainya penyelenggaraan Sekolah Rakyat pada Juli tahun 2025 lalu,” ujar Gus Ipul.
Sejak memasuki area sekolah, para calon siswa dan orang tua disambut suasana hangat dan penuh semangat. Berbagai penampilan ditunjukkan para siswa, mulai dari yel-yel, pidato dalam empat bahasa asing, paduan suara hingga pertunjukan tari yang menggambarkan perkembangan kemampuan akademik maupun kepercayaan diri siswa selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan Misfan Nazriel Faturrahman, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi yang bertindak sebagai pembawa acara. Dengan lancar dan percaya diri, Misfan memandu kegiatan menggunakan Bahasa Inggris di hadapan para tamu undangan.
“Alhamdulillah di Sekolah Rakyat saya mendapatkan pendidikan dan fasilitas yang sangat baik. Mendukung saya secara akademik dan juga membuat cita-cita saya jadi lebih jelas,” kata Misfan.
Kisah-kisah perubahan hidup siswa menjadi bagian yang paling menyentuh dalam kegiatan tersebut. Salah satunya dialami Muhammad Revaldi, calon siswa berusia 17 tahun yang sempat putus sekolah sejak kelas dua sekolah dasar akibat kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.
Revaldi tumbuh dalam lingkungan yang penuh keterbatasan. Ibunya merupakan penyandang disabilitas daksa, sementara ayah angkatnya bekerja sebagai pengemudi ojek dengan penghasilan yang tidak menentu. Selama hampir sembilan tahun, Revaldi tidak lagi mengenyam pendidikan formal dan lebih banyak menghabiskan waktunya di jalanan, termasuk memulung untuk membantu kebutuhan keluarga.
Kini, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi dirinya dan keluarga.
Saat berdialog dengan Gus Ipul, sang ibu, Iis Anggel, tidak mampu menahan haru. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan harapannya agar pendidikan di Sekolah Rakyat dapat mengubah masa depan anaknya.
“Karena dari kecil sudah susah. Seharusnya dia berpendidikan, tetapi tidak bisa sekolah. Mudah-mudahan sekarang bisa berhasil dan mengubah kehidupan kami,” ujar Iis sambil meneteskan air mata.
Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program strategis yang digagas langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk keberpihakan negara kepada keluarga miskin dan rentan yang selama ini belum sepenuhnya merasakan hasil pembangunan.
Menurutnya, pendidikan merupakan jalan paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
“Karena Bapak Presiden ingin seluruh anak Indonesia memperoleh pendidikan yang baik, tidak ada yang tertinggal, sehingga nanti anak-anakku sekalian bisa menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia di masa yang akan datang,” kata Gus Ipul.
Ia juga menjelaskan bahwa proses penerimaan siswa Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran terbuka, melainkan melakukan penjangkauan langsung berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk memastikan program benar-benar diterima oleh anak-anak yang paling membutuhkan.
“Pada saat ada penjangkauan, kita menggunakan data. Tidak boleh memanipulasi data, tidak boleh menerima imbalan dalam bentuk apa pun. Tidak boleh ada pungutan dan tidak boleh ada titipan,” tegasnya.
Penegasan tersebut sekaligus menjadi komitmen pemerintah untuk menjaga integritas dan ketepatan sasaran program Sekolah Rakyat.
Bagi para orang tua yang hadir, Open House bukan sekadar kunjungan sekolah. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyaksikan secara langsung bagaimana pendidikan mampu mengubah rasa minder menjadi percaya diri, mengubah ketidakpastian menjadi harapan, dan mengubah keterbatasan menjadi peluang masa depan.
Menjelang satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat, berbagai capaian mulai terlihat. Anak-anak yang sebelumnya putus sekolah, hidup di jalanan, atau terancam kehilangan masa depan kini mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan bermimpi lebih tinggi.
Melalui Open House ini, Kementerian Sosial ingin menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan, melainkan ikhtiar negara untuk memastikan setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarganya, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Turut mendampingi Menteri Sosial dalam kegiatan tersebut antara lain Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Supomo, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Mira Riyati Kurniasih, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Agus Zainal Arifin, Plt Inspektur Jenderal Dody Sukmono, serta jajaran pejabat Kementerian Sosial lainnya. (Red/Adv)













