Kota Metro, Lampung – Memasuki usia lebih dari tujuh tahun, Payungi (Pasar Kreatif Yosomulyo Pelangi) telah berevolusi jauh melampaui sekadar pasar mingguan. Di bawah inisiasi Dharma Setyawan, ekosistem ini kini menjadi laboratorium pemberdayaan masyarakat yang komprehensif, mengintegrasikan ekonomi kreatif, pendidikan transformatif, hingga kemandirian pangan dalam satu kawasan kolaboratif.
Dharma Setyawan, akademisi UIN Jurai Siwo Lampung lulusan S2 UGM, berhasil membuktikan bahwa narasi pemberdayaan bukan hanya teori di ruang kelas. Melalui Payungi, ia menciptakan model ekonomi yang mampu mencatatkan omset hingga Rp 100 juta dalam satu hari gelaran, dengan daya tarik mencapai 2.000 pengunjung setiap Minggu pagi di Yosomulyo, Metro Pusat.
Lebih dari Sekadar Pasar: Ekosistem Pendidikan dan Inklusi.
Keunikan utama Payungi di tahun ketujuh ini adalah penguatan sayap pendidikannya. Melalui unit-unit seperti Payungi University dan Sekolah Desa, kawasan ini menjadi pusat pembelajaran bagi para penggerak komunitas dari berbagai daerah.
Payungi juga menunjukkan komitmen sosial yang tinggi melalui:
- Women & Environment Studies (WES): Memberdayakan perempuan dan kesadaran lingkungan.
- Disabilitas Corner: Menyediakan ruang inklusi yang setara.
- Pesantren Wirausaha: Wadah bagi para pedagang untuk meningkatkan kapasitas bisnis dan spiritualitas kerja.
- Program Bootcamp: Pelatihan intensif yang kini menjadi rujukan bagi instansi pemerintah dan komunitas nasional.
Kemandirian Pangan dan Keberlanjutan
Di tengah isu krisis pangan, Payungi mempelopori gerakan Urban Farming melalui pengelolaan kebun organik dan peternakan Ayam Kastari. Tak hanya soal perut, kelestarian lingkungan dijaga melalui inovasi Halte Sampah, sebuah solusi nyata pengelolaan limbah berbasis warga.
Sosok di Balik Layar: Dharma Setyawan
Konsistensi Dharma dalam menggerakkan warga membuahkan pengakuan nasional. Ia merupakan peraih Revolusi Mental Award 2023 yang diserahkan di Istana Wakil Presiden, serta penerima Penabur Harapan Kick Andy Award 2023. Dharma kini aktif berkeliling Indonesia untuk membagikan “cara kerja” Payungi sebagai metodologi pembangunan komunitas.
“Payungi adalah ‘Super-App Organik’. Jika dunia digital punya aplikasi untuk segala kebutuhan, kami di Payungi menyediakan ekosistem nyata: mulai dari pasar, sekolah, hingga homestay, yang semuanya dijalankan secara mandiri oleh tangan-tangan warga,” ujar Dharma Setyawan.
Fasilitas Berbasis Gotong Royong Warga
Meski dikenal melalui pasar Minggu pagi, nadi Payungi berdenyut setiap hari. Kehadiran Omahe Coffee, Koperasi Pancadaya, hingga Homestay Berbasis Warga menjadikan kawasan ini destinasi wisata edukasi yang produktif sepanjang pekan.
Perayaan tahun ke-7 Payungi bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan bahwa kemandirian ekonomi dari tingkat akar rumput adalah kunci masa depan Indonesia.
Tentang Payungi:
Payungi (Pasar Kreatif Yosomulyo Pelangi) adalah inisiatif pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi kreatif yang berlokasi di Kota Metro, Lampung. Didirikan sebagai respon atas kebutuhan ruang publik yang produktif, Payungi kini menjadi model percontohan nasional dalam hal kolaborasi komunitas dan kemandirian ekonomi. (Red)
Kontak Media:
Narahubung 081273307316
Email payungiuniversity@gmail.com
Website payungi.org
Instagram: @payungi_
Youtube Payungi University
