Cibinong – Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan “jembatan emas” bagi keluarga miskin dan rentan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Hal ini disampaikannya saat menutup Pelatihan Manajemen Pembelajaran bagi Guru dan Kepala Sekolah Rakyat Tahun 2026 di Harris Hotel Cibinong, Sabtu (25/4/2026).
Dalam arahannya, Agus Jabo menekankan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai instrumen strategis negara dalam memutus transmisi kemiskinan antar generasi.
“Sekolah Rakyat ini berbeda. Kita tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi menjalankan misi besar untuk memutus rantai kemiskinan. Inilah jembatan emas bagi keluarga yang selama ini tidak memiliki harapan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, lebih dari 74 persen keluarga miskin hanya berpendidikan hingga sekolah dasar. Selain itu, sekitar 4,1 juta anak usia 7–18 tahun belum atau tidak lagi bersekolah, dengan 3,79 juta di antaranya telah putus sekolah.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah meningkatkan kapasitas Sekolah Rakyat pada tahun 2026 menjadi sekitar 45 ribu siswa, dari sebelumnya sekitar 15 ribu peserta didik.
“Kita baru bisa menjangkau 45 ribu dari sekitar 4 juta anak yang belum sekolah. Ini menjadi motivasi kita untuk terus memperluas jangkauan,” tegasnya.
Kementerian Sosial Republik Indonesia juga melakukan langkah proaktif dengan menjemput langsung anak-anak yang tidak bersekolah, termasuk di wilayah perkotaan seperti Jakarta, untuk ditempatkan di berbagai titik Sekolah Rakyat.
Menurut Agus Jabo, dampak program ini tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga oleh keluarga mereka.
“Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah satu anak, tetapi memulihkan harapan satu keluarga. Dari yang sebelumnya tidak punya harapan, kini mereka punya masa depan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wamensos juga memberikan apresiasi kepada peserta terbaik pelatihan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Kategori guru terbaik diberikan kepada Firsa Fadwatun Nafisa (SRT 19 Wajo), Vinky Audrin Sahrir (SRMP 27 Makassar), dan Melly Maulidah Fitrian (SRT 47 Malang).
Sementara kategori kepala sekolah terbaik diberikan kepada Ilza Satriadi (SRMA 1 Aceh Besar), Rifki Hakim (SRT 9 Banjarbaru), dan Muhannad Shobrin (SRMA 36 Bojonegoro).
Agus Jabo berharap penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh tenaga pendidik untuk terus berinovasi.
Ia juga menegaskan peran strategis kepala sekolah dalam memastikan sistem pendidikan berjalan optimal.
“Kalau sistemnya baik, hasilnya juga akan baik. Kepala sekolah memegang peran penting,” katanya.
Perwakilan peserta, Yanet Berotabui dari SRMA 29 Jayapura, menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan bekal penting bagi para pendidik untuk diterapkan di sekolah masing-masing.
“Materi yang kami dapatkan akan kami terapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak kami,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Agus Jabo mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi dalam menyukseskan program Sekolah Rakyat sebagai solusi nyata pengentasan kemiskinan.
“Sekolah Rakyat adalah jembatan emas. Tugas kita memastikan anak-anak dari keluarga miskin bisa menyeberang menuju masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Red)













